DARI HALAMAN RUMAH, KITA BANGUN KECUKUPAN PANGAN. Oleh: Fransiskus Geli, S. AP.

Oleh: Redaksi
Senin, 28 Sep 2026 | 23:55 WITA 5 menit baca 162 dibaca
DARI HALAMAN RUMAH, KITA BANGUN KECUKUPAN PANGAN.

Oleh: Fransiskus Geli, S. AP.
DARI HALAMAN RUMAH, KITA BANGUN KECUKUPAN PANGAN. Oleh: Fransiskus Geli, S. AP. Sumber: Nusaaksaranews.com

Sumba Barat Daya, 29/09/26, nusaaksaranews.com — Selama kurang lebih tujuh tahun, saya belajar mengubah pola makan sekaligus cara pandang saya terhadap pangan. Perubahan itu berawal dari keinginan sederhana untuk lebih mengenal makanan yang tumbuh di sekitar kita dan memanfaatkan apa yang Tuhan telah sediakan melalui tanah dan alam Sumba.

Dalam keseharian, saya tidak lagi menjadikan nasi dari beras padi sebagai makanan utama. Saya lebih banyak mengonsumsi makanan seperti keladi, petatas, pisang kepok yang dikukus atau dibakar, pepaya, sayuran hijau seperti sawi batang dan kangkung, serta ikan laut.

Bagi saya, ini bukan berarti bahwa pola makan tersebut harus menjadi pilihan semua orang. Setiap keluarga tentu memiliki kebutuhan, kebiasaan dan kondisi yang berbeda.

Saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa selama menjalani pola tersebut, saya semakin tertarik untuk mengenal kembali pangan lokal yang ada di sekitar kita.

Dari situlah muncul keinginan untuk tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga menanam.

Di halaman rumah, saya mulai belajar menanam pisang, gembili, keladi, petatas dan berbagai jenis sayuran sesuai dengan kondisi lahan dan kemampuan yang saya miliki.

Bagi saya, kegiatan sederhana itu mempunyai makna yang lebih besar. Saya sedang belajar membangun kecukupan pangan dari rumah.

Melihat Kembali Apa yang Kita Miliki

Dalam beberapa kesempatan berdiskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan di Kabupaten Sumba Barat Daya, saya mencoba menyampaikan sebuah pandangan sederhana.

Menurut saya, Sumba memiliki potensi pangan yang sangat besar. Kita mempunyai berbagai tanaman pangan, buah-buahan, sayuran, hasil laut dan potensi peternakan.

Karena itu, mungkin kita perlu semakin banyak belajar untuk mengenali, mengelola dan memanfaatkan potensi tersebut.

Saya memahami bahwa persoalan pangan dan kemiskinan bukan persoalan sederhana. Ada banyak faktor yang memengaruhinya dan tentu membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga keagamaan, akademisi dan berbagai pihak lainnya.

Pemerintah juga telah mempunyai berbagai program dan kebijakan untuk membantu masyarakat. Menurut saya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat dapat ikut mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Saya sendiri sering bertanya kepada diri saya:

Bagaimana kalau sebagian kebutuhan pangan keluarga dapat kita hasilkan sendiri?

Pertanyaan sederhana tersebut kemudian mendorong saya untuk mulai menanam.

Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Halaman Rumah

Kita tidak selalu membutuhkan lahan yang luas untuk mulai menanam.

Jika mempunyai halaman, kita bisa memanfaatkannya. Jika lahannya terbatas, kita bisa memilih tanaman yang sesuai.

Kita bisa menanam pisang.

Kita bisa menanam gembili.

Kita bisa menanam keladi dan petatas.

Kita bisa menanam sayuran yang dapat dipanen untuk kebutuhan keluarga.

Mungkin hasil dari satu rumah belum banyak. Tetapi jika dilakukan secara konsisten, hasilnya dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.

Bayangkan apabila semakin banyak keluarga melakukan hal yang sama.

Satu keluarga menanam, manfaatnya dirasakan satu keluarga.

Sepuluh keluarga menanam, manfaatnya semakin luas.

Jika semakin banyak masyarakat ikut bergerak, maka akan tumbuh kekuatan pangan dari rumah tangga dan masyarakat.

Menurut saya, inilah salah satu bentuk sederhana dari ketahanan pangan yang dapat kita bangun bersama.

Potensi Ternak yang Kita Miliki

Selain tanaman pangan, kita juga mempunyai potensi peternakan yang sangat baik.

Babi, ayam, kerbau dan kuda telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumba dan merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Saya melihat potensi tersebut sebagai kekayaan yang dapat terus dipelihara dan dikembangkan.

Dalam kehidupan masyarakat Sumba, ternak juga mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sosial dan adat. Kita memahami bahwa berbagai kegiatan adat membutuhkan persiapan dan biaya yang tidak sedikit.

Namun di balik itu terdapat peluang untuk memperkuat kemampuan ekonomi keluarga melalui pemeliharaan ternak sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tidak semua keluarga harus memelihara ternak dalam jumlah besar. Bisa dimulai dari beberapa ekor ayam atau ternak lain yang sesuai dengan kondisi keluarga.

Yang penting adalah kemauan untuk mulai belajar, memelihara dan mengembangkan apa yang kita miliki.

Belajar Melihat Masalah dari Sisi Solusi

Saya bukan seorang pejabat, bukan seorang ahli pertanian dan bukan pula seorang pengusaha besar.

Saya adalah seorang pekerja serabutan yang berusaha memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan kepada saya.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya belajar bahwa masalah akan selalu ada. Namun saya berusaha untuk tidak terlalu lama berhenti pada masalah.

Kalau ada kekurangan, saya mencoba bertanya:

Apa yang bisa saya lakukan?

Kalau ada halaman yang belum dimanfaatkan, saya mencoba menanam.

Kalau ada sesuatu yang belum saya pahami, saya mencoba belajar.

Kalau ada kesulitan, saya mencoba mencari jalan keluarnya.

Bagi saya, berpikir positif bukan berarti mengabaikan persoalan. Justru dengan melihat sisi positif, kita dapat mempunyai semangat untuk mencari solusi dan mulai bekerja.

Zaman sekarang juga memberikan banyak kesempatan untuk belajar. Pengetahuan tentang pertanian, peternakan, pengolahan makanan dan berbagai keterampilan semakin mudah diperoleh.

Kita tinggal memiliki kemauan untuk belajar dan mencoba.

Mari Belajar dan Bergerak Bersama

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua persoalan pangan dapat diselesaikan hanya dengan menanam di halaman rumah.

Tentu diperlukan kerja bersama dan dukungan berbagai pihak.

Namun saya percaya, perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang kecil.

Dari diri sendiri.

Dari keluarga.

Dari halaman rumah.

Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat kembali potensi yang ada di sekitar kita.

Mari menanam pisang.

Mari menanam gembili.

Mari menanam keladi.

Mari menanam petatas.

Mari menanam sayuran.

Mari memelihara ternak sesuai kemampuan.

Mari belajar mengenal makanan yang tumbuh di tanah kita sendiri.

Mari belajar mengolahnya.

Mari belajar memanfaatkannya.

Dan yang paling penting, mari bergerak bersama.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?”

Sesekali mari bertanya:

“Apa yang bisa saya tanam?”

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang bisa diberikan kepada saya?”

Tetapi mari juga bertanya:

“Apa yang bisa saya hasilkan untuk keluarga saya?”

Mungkin kita tidak dapat melakukan semuanya.

Tetapi kita dapat melakukan sesuatu.

Satu tanaman hari ini mungkin terlihat kecil. Namun jika ditanam oleh banyak keluarga dan dirawat dengan tekun, sesuatu yang kecil itu dapat menjadi kekuatan bersama.

Saya percaya, kecukupan pangan rumah tangga dapat dibangun secara perlahan, dengan belajar, bekerja dan memanfaatkan apa yang kita miliki.

Mari mulai dari rumah.

Mari mulai dari halaman sendiri.

Mari belajar bersama.

Mari menanam bersama.

Mari bergerak bersama.

Sebab masa depan tidak hanya dibangun dengan apa yang kita harapkan, tetapi juga dengan apa yang mulai kita kerjakan hari ini.@

( Red/ YK).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

1 Tanggapan
F
Fransiskus Geli
4 minggu yang lalu

Terimakasih atas kerja sama media nusaaksaranews. Com. Semangat berjuang melalui hal sederhana

Komentar
Share WhatsApp