KATEDRAL ROH KUDUS WEETOBULA: KISAH IMAN DI ATAS BUKIT KERAMAT.

Oleh: Redaksi
Jumat, 23 Okt 2026 | 09:35 WITA 8 menit baca 56 dibaca
KATEDRAL ROH KUDUS WEETOBULA: KISAH IMAN DI ATAS BUKIT KERAMAT.
Foto diambil dari Komsos Kawula Weetobula. Gereja Katedral Roh Kudus Weetobula. Sumber: Istimewa.

Weetobula, 23/10/26, nusaaksaranews.com — Berbicara tentang sejarah dan perkembangan peradaban modern di wilayah Sumba Barat Daya, rasanya kurang lengkap kalau kita tidak menyebut Weetobula. Kota ini bukan sekadar pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan pendidikan, kehidupan sosial, dan perkembangan iman Katolik di tanah Kodi dan sekitarnya.

Di antara sekian banyak tempat bersejarah di Weetobula, ada satu bangunan yang selalu menarik perhatian: Gereja Katedral Roh Kudus Weetobula, yang berdiri anggun di atas Bukit Keramat. Gereja ini bukan hanya tempat umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Di balik batu-batunya yang kokoh, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan para misionaris, kerja keras umat, dan penyelenggaraan Tuhan yang menyertai perjalanan Gereja di Sumba.

Dari Pakamandara ke Weetobula

Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Mgr. Hendrikus Haripranata, SJ, awal perkembangan Weetobula sebagai pusat misi Katolik tidak dapat dipisahkan dari sosok Pater Heinrich Limbrock, SVD. Pada tahun 1929, beliau memutuskan memindahkan pusat misi Katolik dari Pakamandara ke wilayah yang kemudian dikenal sebagai Weetobula.

Keputusan itu menjadi titik penting dalam sejarah wilayah Sumba. Dari tempat inilah, karya misi semakin berkembang. Pendidikan mulai mendapat tempat, kehidupan umat bertumbuh, dan berbagai perubahan sosial perlahan-lahan terjadi.

Karena itu, sudah sepantasnya kita menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), yang meneruskan karya para misionaris Yesuit dengan semangat dan pengorbanan. Mereka datang bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan untuk mewartakan Injil, mendampingi umat, membuka jalan pendidikan, dan menanamkan benih iman.

Apa yang kita nikmati hari ini tidak muncul begitu saja. Ada banyak kisah perjuangan yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Ada perjalanan jauh, keterbatasan sarana, bahasa yang berbeda, cuaca yang tidak selalu bersahabat, dan pekerjaan berat yang harus dilakukan dengan tenaga seadanya.

Namun, mereka tetap bertahan. Benih yang ditanam dengan susah payah itu akhirnya tumbuh dan berkembang. Weetobula pun menjadi salah satu pusat penting kehidupan masyarakat dan Gereja di Sumba.

Bukit Keramat, dari Cerita Siluman hingga Rumah Tuhan

Salah satu tempat yang paling mencolok di Weetobula adalah Katedral Roh Kudus. Letaknya di atas Bukit Keramat, sebuah bukit yang sejak dahulu menyimpan cerita tersendiri di tengah masyarakat.

Konon, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, bukit ini dahulu dihuni oleh kambing siluman. Benar atau tidaknya cerita itu, kita biarkan menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat setempat. Yang jelas, bukit yang dahulu diselimuti kisah misterius itu kini menjadi tempat suci, tempat umat datang untuk berdoa, merayakan Ekaristi, dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Ada sesuatu yang menarik di sini. Tempat yang dahulu dikaitkan dengan cerita-cerita mistis kini dikenal sebagai rumah doa dan pusat kehidupan iman. Setiap hari Minggu, umat datang dari berbagai wilayah untuk berkumpul sebagai satu keluarga Allah.

Dari kejauhan, perhatian kita langsung tertuju pada bagian depan katedral. Di sana, kaca patri berwarna menampilkan gambaran turunnya Roh Kudus atas kedua belas rasul dalam rupa lidah-lidah api. Para rasul digambarkan mengenakan pakaian khas Sumba, sehingga perpaduan antara kisah Kitab Suci dan budaya lokal terasa begitu kuat.

Menurut Bruder Albert Einkenbus, CSsR, kaca mozaik tersebut dipesan khusus dari Jerman. Tentu, mendatangkan karya seperti itu pada masa tersebut bukan perkara mudah dan murah. Namun, hasilnya sungguh istimewa. Kaca itu bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah pewartaan iman yang dapat dilihat dan direnungkan oleh setiap orang yang datang.

Keunikan lainnya terdapat pada pagar balkon yang memuat notasi balok lagu Veni Creator Spiritus, yang berarti “Datanglah, ya Roh Kudus”. Seolah-olah, bahkan sebelum kita duduk dan mulai berdoa, bangunan ini sudah mengajak kita memohon kehadiran Roh Kudus.

Bangunan Batu yang Menyimpan Sejarah

Katedral Roh Kudus juga memiliki keunikan dari segi arsitektur. Bangunannya didirikan tanpa menggunakan beton seperti yang lazim kita jumpai dalam konstruksi modern. Dindingnya tersusun dari batu putih berukuran sekitar 40 x 25 sentimeter yang dipotong dan disusun dengan rapi.

Batu demi batu membentuk dinding yang kokoh, sederhana, tetapi tetap memancarkan keindahan. Bangunan ini menjadi bukti keterampilan dan ketekunan para bruder misionaris, khususnya Bruder Arnold Streng, SVD, serta Bruder Albert Einkenbus, CSsR, yang melanjutkan pekerjaan tersebut.

Tepat di samping katedral, berdiri Konventu Redemptoris, rumah komunitas para Redemptoris. Sebagian kecil bangunannya merupakan warisan dari masa para misionaris SVD. Didirikan pada tahun 1929, gedung ini termasuk bangunan tertua yang masih berdiri kokoh di kawasan tersebut.

Di dalamnya terdapat kapela komunitas, ruang makan, ruang rekreasi, dan ruang tamu. Tempat-tempat ini mungkin tampak biasa saja bagi orang yang sekadar lewat. Namun, di sanalah kehidupan para misionaris berlangsung: berdoa, makan bersama, berbagi cerita, berdiskusi, dan mempersiapkan pelayanan bagi umat.

Di balik bangunan sederhana itu, ada kehidupan yang terus berdenyut. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam keheningan, ada persaudaraan yang dirawat setiap hari, dan ada karya pelayanan yang dijalankan tanpa banyak sorotan.

Boleh dikatakan, jika katedral menjadi wajah iman umat yang terlihat dari luar, Konventu Redemptoris adalah salah satu tempat di mana semangat iman dan persaudaraan itu terus dipelihara dari dalam.

Dibangun dengan Keringat, Doa, dan Gotong Royong

Kisah pembangunan Katedral Roh Kudus adalah kisah panjang yang mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketekunan.

Dalam sebuah surat Natal yang kemudian menjadi pidato peresmian gereja, Bruder Albert Einkenbus menuturkan bahwa gereja tersebut akhirnya diresmikan pada 26 Juli 1964, setelah melewati berbagai kesulitan selama bertahun-tahun.

Fondasi awalnya telah diletakkan pada tahun 1939 oleh pendahulunya, Bruder Arnold Streng, SVD. Namun, Perang Dunia II mengubah banyak hal. Bahan-bahan bangunan yang telah disiapkan habis digunakan oleh tentara Jepang. Pekerjaan pun terhenti dan cita-cita membangun gereja harus menunggu.

Setelah perang berlalu, perjuangan dimulai kembali. Pada 1 Juli 1957, pekerjaan pembangunan dilanjutkan. Peletakan batu pertama kemudian dilaksanakan pada 17 November 1957.

Tetapi, jalan menuju penyelesaian masih panjang. Semen dan bahan-bahan penting lainnya sempat habis. Kedatangan para suster yang telah lama dinantikan juga membuat prioritas pembangunan harus disesuaikan karena mereka membutuhkan tempat tinggal. Sementara itu, sebagian kayu yang didatangkan dari Kalimantan hilang dalam perjalanan menuju Sumba.

Kalau kita mengalami keadaan seperti itu sekarang, mungkin kita sudah berkali-kali mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar. Namun, para misionaris dan umat pada masa itu harus menghadapinya dengan sarana yang sangat terbatas.

Untungnya, mereka tidak bekerja sendirian. Umat turut mengambil bagian. Ada yang mengangkut bahan bangunan, ada yang mengumpulkan pasir dan batu kapur dari laut, ada yang bekerja sebagai tukang batu, dan ada pula yang membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Tahun demi tahun berlalu. Menara gereja berdiri pada tahun 1960, sedangkan pekerjaan kasar bangunan selesai pada 1962. Sebanyak 32.000 batu putih dikerjakan untuk membentuk dinding gereja yang kita kenal sekarang.

Salah satu kisah yang paling mengesankan adalah perjuangan mengangkut batu altar seberat lima ton dari gunung menuju Weetobula. Bayangkan beratnya batu itu, medan yang harus dilalui, serta tenaga yang dibutuhkan! Pada zaman ketika kendaraan dan peralatan berat belum mudah tersedia, pekerjaan seperti ini tentu menuntut pengorbanan luar biasa.

Atap gereja akhirnya dipasang pada 19 Januari 1963. Pekerjaan itu berlangsung di tengah medan yang berat dan penuh risiko. Menariknya, menurut kesaksian Bruder Albert, tidak ada kecelakaan yang terjadi selama pekerjaan tersebut.

Bagi orang beriman, pengalaman seperti ini tentu menjadi alasan untuk bersyukur dan melihat penyertaan Tuhan dalam setiap langkah perjuangan.

Pada 26 Juli 1964, setelah melalui perjalanan panjang, Katedral Roh Kudus akhirnya diresmikan. Bruder Albert menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja tanpa lelah, kepada para tukang batu, perkumpulan Maria, para dermawan di Sumba maupun di luar negeri, serta semua orang yang telah membantu pembangunan gereja tersebut.

Beliau juga mengungkapkan kebanggaan karena diberi kesempatan menjadi bagian dari karya Tuhan.

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat mendalam. Para misionaris tidak menganggap gereja tersebut sebagai hasil karya mereka semata. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah pekerja yang mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam karya Allah.

Menjaga Warisan, Menyongsong Seratus Tahun

Kini, setelah puluhan tahun berdiri, Katedral Roh Kudus tetap menjadi salah satu lambang penting perjalanan iman umat Katolik di Sumba.

Namun, perjalanan sejarah tidak berarti bangunan ini bebas dari tantangan. Gempa yang terjadi pada September 2026 telah menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian dinding, terutama di sekitar menara. Karena itu, rencana renovasi menara perlu mendapat perhatian serius, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Ini bukan sekadar soal memperbaiki bangunan yang retak. Ini adalah tanggung jawab untuk menjaga warisan sejarah dan iman yang telah dipercayakan kepada generasi sekarang. Renovasi hendaknya dilakukan dengan cermat agar keaslian arsitektur tetap terpelihara dan nilai sejarahnya tidak hilang.

Apalagi, pada tahun 2029, Paroki Katedral Roh Kudus Weetobula akan memasuki usia 100 tahun, dihitung dari awal berdirinya pusat misi di Weetobula pada 1929. Sebuah perjalanan panjang yang patut disyukuri dan dirayakan melalui Jubileum Seratus Tahun.

Perayaan itu tentu bukan hanya kesempatan untuk mengenang masa lalu, mengadakan pesta, atau menghitung berapa banyak orang yang pernah datang dan pergi. Lebih dari itu, jubileum menjadi kesempatan untuk bertanya: setelah seratus tahun menerima warisan iman, apa yang akan kita teruskan kepada generasi berikutnya?

Para misionaris telah mewariskan iman, semangat pelayanan, keberanian menghadapi kesulitan, dan ketekunan membangun kehidupan bersama. Umat terdahulu telah menyumbangkan tenaga, waktu, dan harta untuk mendirikan rumah Tuhan. Kini, giliran kita menjaga warisan itu, bukan hanya dengan merawat batu dan bangunan, tetapi juga dengan merawat kehidupan iman, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sebab, gereja yang sesungguhnya tidak hanya berdiri dari batu-batu putih yang tersusun rapi. Gereja juga dibangun oleh manusia yang mau saling mengasihi, mengampuni, melayani, dan berjalan bersama.

Ya, benar Katedral Roh Kudus Weetobula! Dari Bukit Keramat, ia telah menyaksikan perjalanan panjang umat beriman. Ia menyimpan jejak para misionaris, keringat para pekerja, doa para leluhur, dan harapan generasi yang terus bertumbuh.

Semoga menjelang seratus tahun pada 2029, katedral ini semakin terawat, semakin hidup, dan semakin menjadi pusat perjumpaan umat dengan Tuhan. Semoga lidah-lidah api dalam kaca mozaik itu terus mengingatkan kita bahwa Roh Kudus tidak pernah berhenti bekerja, membarui hati manusia, menguatkan iman, dan mengutus kita menjadi saksi kasih Kristus.

Selamat Pagi. Semoga Roh Kudus senantiasa menyertai perjalanan iman kita di tanah Sumba tercinta.@

Sumber : Pater Willy Ng. Pala, CSsr.

(Red/Yoseph Kalumbang)***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

1 Tanggapan
S
Servulus Bobo Riti
3 hari yang lalu

Ini icon Sumba yang harus kita selamatkan dan pertahankan dengan cara direnovasi... TKS Om YosefKalumbang atas pemberitaannya

Komentar
Share WhatsApp