MASUKNYA ROCKY GERUNG KE WANTIMPRES ADALAH BENTUK KEDEWASAAN NEGARA DALAM MERAWAT DIALEKTIKA. - Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK): Negara membutuhkan pikiran kritis yang masuk ke dalam sistem, bukan hanya kritik dari luar.

Oleh: Redaksi
Jumat, 09 Okt 2026 | 02:01 WITA 4 menit baca 96 dibaca
MASUKNYA ROCKY GERUNG KE WANTIMPRES ADALAH BENTUK KEDEWASAAN NEGARA DALAM MERAWAT DIALEKTIKA. - 

Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK): Negara membutuhkan pikiran kritis yang masuk ke dalam sistem, bukan hanya kritik dari luar.
MASUKNYA ROCKY GERUNG KE WANTIMPRES ADALAH BENTUK KEDEWASAAN NEGARA DALAM MERAWAT DIALEKTIKA. - Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK): Negara membutuhkan pikiran kritis yang masuk ke dalam sistem, bukan hanya kritik dari luar. Sumber: Istimewa.

KUPANG, 09/10/26, nusaaksaranews.com — Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK), menilai masuknya Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) merupakan bagian dari proses kedewasaan negara dalam mengambil keputusan dan mengelola perbedaan pandangan.

Menurut JK, keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan ruang kepada tokoh yang selama ini dikenal vokal dan kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah justru harus dilihat dari perspektif positif.

“Masuknya Bung Rocky Gerung ke dalam sistem bukan berarti kritik harus berakhir. Justru negara sedang diuji: apakah pikiran-pikiran kritis dapat ditempatkan sebagai energi positif untuk memperbaiki kebijakan negara,” ujar JK.

Rocky Gerung selama ini dikenal publik sebagai sosok yang tidak segan memberikan kritik tajam terhadap berbagai persoalan bangsa. Kritik tersebut kerap menimbulkan perdebatan, tetapi menurut JK, perdebatan adalah bagian penting dari kehidupan demokrasi dan proses menemukan kebenaran kebijakan publik.

JK menilai negara tidak boleh alergi terhadap kritik. Sebaliknya, kritik harus dapat dikonversi menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

“Kita tahu jejak Bung Rocky sering memberikan kritik yang tajam. Tetapi justru ketajaman berpikir seperti itu dibutuhkan di dalam proses pengambilan kebijakan, sepanjang kritik tersebut tetap terukur, argumentatif dan diarahkan untuk kepentingan bangsa,” katanya.

Rocky sendiri setelah dilantik menegaskan bahwa sikap kritisnya tidak berubah. Ia menyebut dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam sistem. Bahkan, menurut Rocky, Wantimpres memiliki fungsi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan agar Presiden mendapatkan perspektif yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan.

KRITIK TIDAK HARUS SELALU BERADA DI LUAR KEKUASAAN.

Bagi JK, salah satu kesalahpahaman dalam demokrasi adalah anggapan bahwa seseorang akan kehilangan independensinya ketika masuk ke dalam sistem.

Menurutnya, justru ujian sesungguhnya terhadap seorang intelektual adalah ketika ia berada dekat dengan kekuasaan: apakah ia tetap mampu mengatakan benar ketika benar dan salah ketika salah.

“Kritik tidak harus selalu berada di luar pagar kekuasaan. Ada kalanya kritik harus masuk ke dalam ruang pengambilan keputusan agar dapat langsung menjadi pertimbangan. Di situlah kedewasaan negara diuji,” tegasnya.

JK berharap keberadaan Rocky Gerung di Wantimpres tidak dipahami sebagai upaya membungkam suara kritis, tetapi sebagai upaya menginstitusionalisasikan dialektika dalam proses pengambilan kebijakan.

Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan ruang yang sehat untuk mempertemukan berbagai perspektif: pemerintah, akademisi, praktisi, masyarakat sipil, guru, mahasiswa, aktivis, hingga kelompok kritis.

SETIAP PERSOALAN BANGSA HARUS TERUS DIDIALEKTIKAKAN.

JK mengatakan, tidak ada kebijakan pemerintah yang sempurna. Karena itu, setiap kebijakan harus terbuka terhadap evaluasi, kritik dan koreksi.

“Persoalan bangsa jangan dihentikan pada satu kesimpulan. Harus terus didialektikakan. Dari tesis, muncul antitesis, kemudian kita mencari sintesis berupa solusi yang lebih baik. Itulah proses berpikir yang sehat dalam membangun negara,” jelasnya.

Ia berharap Rocky Gerung dapat membawa tradisi berpikir kritis tersebut ke dalam Wantimpres, sehingga lembaga tersebut tidak sekadar menjadi ruang formal untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden, tetapi benar-benar menjadi ruang intelektual yang mampu menguji kebijakan secara objektif, kritis dan konstruktif.

JK juga mengingatkan bahwa kritik yang konstruktif tidak boleh berubah menjadi sekadar oposisi terhadap setiap kebijakan pemerintah.

“Kalau kebijakan pemerintah benar, kita harus mengatakan benar. Kalau salah, harus berani mengatakan salah. Kalau masih kurang, harus diberikan jalan keluarnya. Jadi ukuran kita bukan siapa yang membuat kebijakan, tetapi apakah kebijakan itu memberikan manfaat bagi rakyat dan kemajuan bangsa,” ungkapnya.

FORUM GURU NTT: JANGAN TAKUT PADA PIKIRAN KRITIS.

Forum Guru NTT, lanjut JK, melihat dinamika tersebut sebagai bagian dari pendidikan demokrasi bagi masyarakat.

Guru, kata dia, justru harus mengajarkan kepada generasi muda bahwa perbedaan pendapat bukan ancaman bagi negara.

“Negara yang kuat bukan negara yang tidak memiliki kritik. Negara yang kuat adalah negara yang mampu mendengar kritik, mengolah kritik, menguji kritik dan menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki kebijakan,” katanya.

Karena itu, JK menyambut positif kehadiran Rocky Gerung dalam Wantimpres dan berharap keberadaannya mampu memberikan warna baru dalam proses pertimbangan kebijakan Presiden.

“Bung Rocky sekarang berada di dalam sistem. Kita tidak perlu buru-buru menghakimi. Berikan kesempatan untuk membuktikan apakah ketajaman pikirannya tetap terjaga. Justru dari sanalah publik akan menilai,” ujar JK.

Menurutnya, publik tetap memiliki hak untuk mengawasi dan mengkritisi kinerja Wantimpres. Namun, kritik terhadap keputusan Presiden juga harus dilakukan secara objektif dan tidak semata-mata berdasarkan prasangka.

“Mari kita lihat apa yang akan dilakukan. Jangan hanya melihat siapa yang masuk, tetapi lihat apa yang diberikan kepada bangsa. Kalau pikiran kritis dapat digunakan untuk memperbaiki kebijakan, maka itu bukan ancaman bagi negara. Itu adalah kekuatan negara,” pungkas Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK), Ketua Forum Guru NTT.@

(Red/ Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp