Cerpen - IBLIS BERPESTA PORA MENJEBAK MANUSIA DALAM DOSA. Oleh : Fren - Fredy Malo.

Oleh: Redaksi
Sabtu, 03 Okt 2026 | 09:27 WITA 6 menit baca 200 dibaca
Cerpen - 

IBLIS BERPESTA PORA MENJEBAK MANUSIA DALAM DOSA.

Oleh : Fren - Fredy Malo.
Drs. Fredy Malo, M.M. Sumber: Nusaaksaranews.com

Wee tobula,03/10/26, nusaaksaranews.com — Di desa kami, ada lima nama yang disebut dengan hormat. Jika namanya dipanggil dalam rapat desa, semua kepala akan menoleh.

Mereka adalah Ama Birri, Inna Kadi, Kalada Bulle, Kalli Ti'a, dan Peda Kii.

Ama Birri adalah pejabat di kabupaten. Jalannya tegap, suaranya keras, mobil dinasnya selalu mengkilap. Inna Kadi adalah bendahara di kecamatan, perempuan paling rapi, catatannya selalu bersih. Kalada Bulle adalah kontraktor besar, pemilik toko bangunan terbesar di pasar. Kalli Ti'a adalah pemimpin adat sekaligus pegawai, kata-katanya dianggap hukum. Dan Peda Kii adalah orang kepercayaan bupati, yang mengurus semua proyek.

Mereka adalah orang penting. Orang berpengaruh. Nama mereka tidak hanya dikenal di desa kami, tapi sampai ke kecamatan dan kabupaten, sejauh wilayah kerja mereka.

Sebagai bagian dari masyarakat, mereka tidak pernah absen. Justru mereka yang paling sibuk.

Jika ada pembangunan gereja, nama mereka ada di daftar donatur pertama. Jika ada ritual budaya kematian, mereka yang menyumbang kerbau. Jika ada ritual peminangan perempuan, mereka yang membawa kain terbanyak. Jika ada pertandingan bola di tingkat desa sampai kabupaten, merekalah sponsor utamanya. Spanduknya besar-besar: "Disponsori oleh Bapak Kalada Bulle".

Di kegiatan gerejani, mereka adalah teladan.

Ama Birri adalah dirigen koor lingkungan. Suaranya lantang memimpin lagu. Inna Kadi adalah ketua kelompok doa rosario, doanya paling panjang dan khusyuk. Kalada Bulle tidak pernah absen misa Minggu, duduk di bangku paling depan. Kalli Ti'a selalu menjadi lektor dengan suara merdu. Peda Kii adalah donatur tetap untuk perbaikan atap gereja.

Orang-orang memuji mereka. "Lihat, orang hebat tapi rendah hati. Orang kaya tapi dekat dengan Tuhan."

Dan karena pujian itulah, mereka selalu diberi panggung untuk berbicara.

Di setiap pesta syukuran permandian anak, di setiap acara sambut baru komuni pertama, di setiap upacara sidi, di setiap pesta perkawinan, di setiap peminangan perempuan, di setiap ritual kematian, mereka selalu diminta memberi sambutan.

Dan sambutannya selalu sama.

Ama Birri akan berdiri, merapikan kemejanya, lalu berkata, "Anak-anakku, kalian yang mau membentuk rumah tangga baru, ingatlah: setia pada pasangan. Bekerja secara jujur dalam melaksanakan tugas. Jangan mengambil hak orang lain secara tidak sah."

Inna Kadi akan menyambung dengan lembut, "Transparan. Harus transparan dalam mengelola berkat Tuhan. Tuhan melihat apa yang kita lakukan."

Kalada Bulle, Kalli Ti'a, Peda Kii, semua mengulang-ulang kata yang sama: "Jujur. Transparan. Setia. Jangan korupsi".

Kata-kata itu indah. Kata-kata itu benar. Orang-orang mengangguk. Para calon pengantin mencatatnya di hati.

Tidak ada yang tahu, pada saat kata-kata indah itu diucapkan di mimbar gereja, di panggung pesta, dan di balai desa, ada tamu lain yang sedang duduk di antara mereka, tertawa pelan. Namanya Iblis.

Iblis di desa kami tidak datang dengan tanduk dan api. Ia datang dengan godaan yang sangat halus.

Kepada Ama Birri , Iblis berbisik di dalam mobil dinas yang ber-AC, "Birri, kau sudah menyumbang banyak untuk gereja. Masa rumahmu masih satu lantai? Lihat pejabat di kabupaten lain, rumahnya sudah tingkat tiga. Kau pantas mendapatkannya."

Kepada Inna Kadi, Iblis berbisik di depan cermin, "Kadi, kau cantik dan pandai mengelola uang. Sayang kalau tasmu masih yang lama. Lihat istri kepala dinas itu, tasnya mahal. Kau lebih berhak."

Kepada Kalada Bulle, Iblis berbisik di toko bangunannya, "Bulle, kau membangun gereja, kau membangun balai desa, tapi untungmu hanya sedikit. Naikkan sedikit saja harga semen. Tidak ada yang tahu."

Kepada Kalli Ti'a, Iblis berbisik, "Ti'a, semua orang mendengarkanmu. Kau bisa mengatur siapa yang dapat bantuan. Sisihkan sedikit untuk anak cucumu."

Dan kepada Peda Kii, Iblis berbisik paling keras, "Kii, kau yang mengurus semua proyek, tapi kau hanya dapat terima kasih. Ambil jatahmu. Itu bukan korupsi, itu hak lelahmu."

Awalnya bisikan itu ditolak. Mereka masih ingat nasihat yang mereka berikan sendiri.

Tapi Iblis itu sabar. Ia tidak pergi. Ia datang lagi setiap malam, setiap kali mereka melihat mobil baru tetangga, setiap kali mereka melihat rumah tingkat, setiap kali tumpukan uang milik orang banyak tergeletak di meja kantor.

Tumpukan uang milik orang banyak itu memang incaran yang paling empuk.

Perlahan, mereka mulai memberi alasan.

"Ah, hanya sekali ini saja. Untuk biaya sekolah anak."

"Hanya untuk beli mobil bekas, bukan mobil baru."

"Ini bukan korupsi, ini ucapan terima kasih dari kontraktor."

"Semua orang juga melakukannya."

Dan sambil melakukan itu, mereka tetap aktif di gereja. Bahkan semakin aktif. Karena mereka pikir, dengan semakin banyak berdoa, menyanyi di koor, dan memberi sumbangan, dosa mereka akan tertutup.

Inilah jebakan Iblis yang paling sempurna: Membuat manusia merasa saleh sambil berbuat dosa. Membuat manusia tetap menasihati orang lain untuk jujur, agar kejahatannya sendiri tidak terlihat.

Mereka tidak sadar, mereka sedang menjadi aktor terbaik milik Iblis.

Kemudian waktu berjalan. Musim hujan berganti musim kemarau.

Suatu pagi, berita itu meledak seperti petir di musim kering.

"Ama Birri ditangkap karena korupsi dana bantuan sosial"

Satu minggu kemudian, berita lain menyusul: "Inna Kadi digerebek karena kasus perselingkuhan dengan atasannya".

Belum selesai orang berbisik-bisik, koran lokal memuat headline besar: "Kalada Bulle ditetapkan sebagai tersangka suap proyek jalan".

Lalu Kalli Ti'a menyusul: "Kalli Ti'a terbukti menerima gratifikasi tanah adat".

Dan terakhir, yang paling mengejutkan, Peda Kii: "Peda Kii melakukan mark-up harga alat kesehatan hingga miliaran rupiah".

Desa kami gempar. Gereja yang biasanya penuh, mendadak sunyi. Koor lingkungan kehilangan dirigennya. Kelompok doa kehilangan ketuanya.

Kepercayaan masyarakat hilang seketika. Anak-anak muda yang dulu menjadikan mereka teladan, kini mencibir. "Ternyata semua nasihat jujur itu hanya topeng."

Di kantor polisi, di dalam sel yang dingin yang disebut orang sebagai hotel prodeo, kelima orang penting itu duduk tertunduk. Tidak ada lagi jas rapi, tidak ada lagi sumbangan kerbau, tidak ada lagi panggung untuk berpidato tentang kejujuran.

Dan di luar sel, di sebuah sudut yang tidak terlihat manusia, Iblis sedang berpesta pora.

Ia tertawa terbahak-bahak. Ia mengangkat gelas anggur yang terbuat dari air mata penyesalan.

Ia berhasil. Ia tidak perlu menyuruh manusia untuk menjadi jahat. Ia hanya perlu membuat manusia yang jahat terlihat jujur. Ia hanya perlu membuat manusia yang korupsi, tetap rajin berdoa dan menasihati orang lain agar jujur.

Karena dengan begitu, ketika kejahatan itu terbongkar, bukan hanya pelaku yang hancur, tapi juga kepercayaan seluruh desa kepada kejujuran itu sendiri.

Itulah kemenangan terbesar Iblis.

Malam itu, di desa kami, lonceng gereja tetap berbunyi. Tapi tidak ada lagi yang berani naik ke mimbar untuk berpidato tentang kejujuran.

Semua orang takut, jangan-jangan Iblis sedang duduk di sampingnya, sedang mencatat siapa korban selanjutnya.

TAMAT.

Cerita ini merupakan karya fiksi/satire yang dibuat untuk menyampaikan kritik sosial melalui simbol, metafora, dan tokoh rekaan. Nama tokoh, karakter, jabatan, peristiwa, serta rangkaian kejadian dalam cerita merupakan bagian dari konstruksi fiksi dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau menuduhkan suatu perbuatan kepada orang, lembaga, atau pihak tertentu di dunia nyata.@

( Red/ Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp