KAU BERDOSA, KAU BERDURI. Cerpen Oleh: Fren (Fredy Malo).

Oleh: Redaksi
Minggu, 11 Okt 2026 | 11:43 WITA 22 menit baca 282 dibaca
KAU BERDOSA, KAU BERDURI.

Cerpen

Oleh: Fren (Fredy Malo).
KAU BERDOSA, KAU BERDURI. Cerpen Oleh: Fren (Fredy Malo). Sumber: Istimewa.

Wee tobula,11/10/26 -, nusaaksaranews.com — 1. Nama yang Berubah Menjadi Hukuman.

Nama sebenarnya adalah Peda Kii.

Nama itu diberikan ibunya dengan segenap doa dan harapan. Agar kelak anak perempuannya tumbuh menjadi manusia yang baik hati, lembut dalam tutur kata, dan tidak menyakiti sesama.

Dalam bahasa kami, ki'i berarti baik.

Namun, belakangan ini, nama itu perlahan kehilangan tempat di lidah orang-orang sekampung. Tak banyak lagi yang memanggilnya Peda Kii. Nama itu seolah-olah telah terkubur bersama kepercayaan orang-orang terhadap dirinya.

Kini, mereka memanggilnya Duri.

"Eh, Duri lewat!" bisik Kalada Bulle dari warung di pinggir jalan.

"Itu Duri yang dulu mengajar anak-anak PAUD, bukan?" sahut Kalli Ti'a sambil melirik ke arah seorang perempuan yang berjalan dengan kepala tertunduk.

"Benar. Cantik-cantik, ternyata begitu kelakuannya."

Beberapa orang yang mendengar percakapan itu hanya diam. Ada yang menggeleng, ada yang tersenyum sinis, ada pula yang pura-pura sibuk dengan urusannya sendiri.

Tak seorang pun berusaha membela.

Di desa kami, sebuah kabar buruk bisa berlari lebih cepat daripada kuda yang dilepas di padang. Dan ketika kabar itu telah sampai ke setiap sudut kampung, kebenaran sering kali tak lagi penting. Orang-orang lebih menyukai cerita yang bisa mereka bicarakan daripada kenyataan yang perlu mereka pahami.

Duri.

Begitulah nama baru yang disematkan kepadanya. Nama yang dianggap pantas untuk seorang perempuan yang dituduh merusak rumah tangga orang lain.

Namun, tak seorang pun pernah bertanya dengan sungguh-sungguh: sejak kapan duri itu tumbuh, dan siapa yang pertama kali menanamnya?.

Peda Kii adalah seorang guru honorer di sebuah PAUD sederhana di desa kami. Wajahnya manis, kulitnya putih bersih, dan matanya bulat dengan tatapan yang dahulu selalu tampak penuh harapan.

Senyumnya pernah menjadi kesenangan anak-anak didiknya. Suaranya pernah menjadi teman pagi bagi anak-anak yang belajar menyebut huruf dan menyanyikan lagu-lagu sederhana.

Di balik senyum itu, tersembunyi kehidupan yang jauh dari kata mudah.

Peda Kii berasal dari keluarga miskin. Ayahnya, seorang petani penggarap, mengolah sawah milik orang lain. Nasib panennya bergantung pada kemurahan hujan dan kebaikan pemilik lahan. Jika hujan datang terlambat, tanaman mengering. Jika hasil panen sedikit, beras yang dibawa pulang pun tak cukup untuk bertahan lama.

Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang pedagang kaya. Upahnya kecil, hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok. Bahkan, pada bulan-bulan tertentu, uang itu habis sebelum pertengahan bulan tiba.

Sejak kecil, Peda Kii telah mengenal lapar. Ia mengenal seragam sekolah yang dijahit berulang kali, sepatu yang solnya mulai terlepas, serta rasa malu ketika teman-temannya membawa bekal sementara ia hanya meneguk air putih.

Tetapi, ia tidak menyerah.

Ia belajar dengan tekun. Ia percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang mungkin membawanya keluar dari lingkaran kemiskinan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia diterima menjadi guru honorer di PAUD desanya.

Gajinya hanya Rp300.000 sebulan. Itu pun terkadang baru dibayarkan setelah tiga bulan.

Jumlah yang tidak seberapa, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Namun, setiap kali berdiri di hadapan anak-anak kecil yang menyambutnya dengan riang, Peda Kii merasa pekerjaannya memiliki arti.

Ia bangga bisa mengajar.

Ia bangga bisa membuat anak-anak tertawa.

Dan diam-diam, ia menyimpan harapan sederhana: suatu hari nanti, ia ingin membangun rumah yang layak bagi kedua orang tuanya.

Sayangnya, hidup tidak selalu memberi kesempatan kepada orang miskin untuk bermimpi dengan tenang.

Suatu hari, ayahnya jatuh sakit.

Awalnya hanya batuk biasa. Keluarga itu mengira penyakitnya akan sembuh dengan istirahat dan ramuan tradisional. Namun, hari demi hari, batuknya semakin parah. Demam datang silih berganti. Tubuhnya melemah hingga ia tak sanggup lagi bangun dari balai-balai bambu di sudut rumah.

Seorang petugas kesehatan menyarankan agar ia dibawa ke rumah sakit di Waingapu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Perlu pemeriksaan rontgen.

Perlu obat-obatan.

Perlu biaya transportasi.

Dan yang paling menyakitkan, semua itu memerlukan uang yang tidak mereka miliki.

Peda Kii mulai menghitung tabungan kecilnya. Ibunya menjual beberapa barang yang masih bisa dijual. Mereka meminta bantuan kepada kerabat. Sebagian memberi sedikit uang, sebagian lainnya hanya menyampaikan kata-kata penghiburan.

Uang yang terkumpul belum cukup.

Setiap malam, Peda Kii duduk di samping ayahnya, mendengarkan napas lelaki tua itu yang semakin berat.

"Ayah jangan terlalu banyak pikiran," katanya, berusaha tersenyum.

Ayahnya menoleh lemah.

"Uang untuk berobat dari mana, Nak?"

Peda Kii terdiam.

Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia ingin meyakinkan ayahnya bahwa ia mampu mengatasi keadaan. Namun, bibirnya kelu.

Sebab, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kerja keras dan pendidikan yang selama ini dibanggakannya tidak cukup untuk menyelamatkan orang yang paling ia cintai.

Di tengah keputusasaan itulah, sebuah pintu terbuka.

Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, ada harga yang kelak harus dibayarnya.

2. Pertolongan yang Memiliki Harga.

Sore itu, setelah anak-anak PAUD pulang, Peda Kii duduk sendirian di ruang kelas yang beralaskan tanah.

Di tangannya ada surat rujukan dari puskesmas. Kertas itu telah berkali-kali dibacanya, seolah-olah dengan menatapnya lebih lama, ia akan menemukan jalan keluar.

Air matanya jatuh.

Ia membutuhkan lima juta rupiah.

Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, bagi keluarga Peda Kii, lima juta rupiah terasa seperti gunung yang tak mungkin didaki.

Ia sudah mencoba meminta bantuan kepada beberapa orang.

Kalada Bulle menolak dengan alasan sedang kesulitan.

Kalli Ti'a mengatakan bahwa uangnya baru saja digunakan untuk kebutuhan keluarga.

Yang lain menjanjikan bantuan, tetapi janji itu tak pernah kembali terdengar.

Peda Kii tidak menyalahkan mereka. Ia tahu, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menolong.

Namun, waktu terus berjalan. Sakit ayahnya tidak menunggu sampai ia menemukan uang.

Lalu, ia teringat kepada seorang lelaki bernama Ama Birri.

Ama Birri bukan orang sembarangan di desa kami. Ia pedagang ternak, pengepul kemiri, sekaligus pemilik kios terbesar di kampung. Rumahnya sudah berdinding tembok dan diplester rapi. Dua sepeda motor terparkir di halaman rumahnya.

Ia memiliki istri bernama Inna Kadi dan tiga orang anak.

Di mata masyarakat, Ama Birri adalah lelaki mapan, ramah, dan dermawan. Ia kerap membantu orang yang datang meminta pertolongan, terutama ketika ada kegiatan sosial di desa.

Beberapa waktu sebelumnya, saat sebuah rapat desa, ia pernah berkata kepada Peda Kii, "Kalau ada kesulitan, bilang saja kepada Kakak. Selama Kakak mampu, Kakak bantu."

Kalimat itu terus teringat di benak Peda Kii.

Sore itu juga, ia memberanikan diri mendatangi kios Ama Birri.

Kios tersebut ramai dengan karung beras, minyak goreng, gula, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Ama Birri sedang menghitung uang ketika melihat Peda Kii berdiri di depan meja.

"Ada apa, Ki,i?" tanyanya.

Peda Kii belum dipanggil Duri saat itu. Di hadapan Ama Birri, ia masih dikenal dengan nama aslinya.

"Saya mau minta bantuan, Kak."

Ama Birri meletakkan uang yang sedang dihitungnya.

"Bantuan apa?"

Peda Kii menceritakan keadaan ayahnya. Ia menjelaskan surat rujukan dari puskesmas, biaya perjalanan ke rumah sakit, serta uang yang dibutuhkan untuk membeli obat.

Suaranya bergetar ketika menyebut jumlahnya.

"Lima juta, Kak. Kalau ada, saya pinjam dulu. Saya akan berusaha mengembalikannya sedikit demi sedikit."

Ama Birri tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan perempuan muda yang berdiri di hadapannya. Ia melihat kecantikan yang selama ini diam-diam menarik perhatiannya. Ia juga melihat kesulitan yang membuat perempuan itu datang dengan mata sembap dan wajah penuh kecemasan.

Namun, alih-alih memikirkan bagaimana menolongnya tanpa melukai siapa pun, Ama Birri justru melihat keadaan itu sebagai kesempatan.

Ia tahu Peda Kii sedang terdesak.

Dan ia tahu betapa mudahnya harapan seseorang yang sedang terdesak berubah menjadi kelemahan.

"Begini saja," katanya akhirnya. "Kakak bisa bantu."

Mata Peda Kii sedikit berbinar.

"Benarkah, Kak?"

"Tentu. Tapi jangan di sini. Nanti malam datang ke gudang belakang kios. Kita bicara baik-baik."

Peda Kii terdiam.

"Kenapa harus malam, Kak?"

Ama Birri tersenyum tipis.

"Istri Kakak itu banyak bertanya kalau melihat Kakak mengeluarkan uang. Kakak tidak mau masalah kecil menjadi panjang. Datang saja nanti. Kita cari jalan keluarnya."

Peda Kii ragu.

Ada sesuatu dalam permintaan itu yang membuat hatinya tidak nyaman. Namun, bayangan ayahnya yang terbaring lemah segera mengalahkan keraguan tersebut.

Ia membutuhkan uang.

Ia membutuhkan pertolongan.

Dan ia merasa tidak punya pilihan lain.

"Baik, Kak," jawabnya lirih.

Peda Kii meninggalkan kios dengan langkah pelan.

Di belakangnya, Ama Birri kembali menghitung uang, seolah-olah tidak ada sesuatu yang istimewa baru saja terjadi.

Namun, sore itu, keduanya telah memasuki jalan yang sama sekali berbeda dari jalan yang mereka bayangkan.

Yang satu datang membawa kesulitan.

Yang lain menyambutnya dengan niat yang tersembunyi.

Dan di antara keduanya, pertolongan perlahan berubah menjadi perangkap.

3. Ketika Utang Budi Berubah Menjadi Belenggu.

Malam itu, Peda Kii datang ke gudang belakang kios Ama Birri.

Ia datang dengan harapan sederhana: membawa pulang uang untuk pengobatan ayahnya.

Gudang itu sepi. Cahaya lampu yang redup jatuh di antara tumpukan karung beras dan peti-peti barang dagangan.

Ama Birri sudah menunggunya.

"Kau datang juga," katanya.

Peda Kii mengangguk.

"Bagaimana, Kak? Apakah saya bisa dibantu?"

Ama Birri mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

"Bisa. Ini satu juta dulu."

Peda Kii memandang uang itu dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Kak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Kakak bagaimana."

Ama Birri tidak segera menjawab. Ia mendekat dan memegang tangan Peda Kii lebih lama daripada yang seharusnya.

Peda Kii terkejut. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi Ama Birri menatapnya sambil berkata pelan.

"Kakak cuma ingin kau tahu bahwa Kakak sangat menyukaimu."

Peda Kii membeku.

Kalimat itu bukan jawaban yang ia harapkan. Ia datang untuk meminjam uang, bukan untuk menghadapi pernyataan yang membuatnya gelisah.

"Kakak, saya datang karena bapak saya sakit."

"Kakak tahu."

"Saya cuma mau pinjam uang."

Ama Birri menghela napas.

"Kakak sudah bilang akan membantu. Tapi Kakak juga manusia, Ki,i ."

Peda Kii menunduk.

Malam itu, ia pulang membawa uang dan kegelisahan yang tak mampu diceritakannya kepada siapa pun.

Ia tahu ada batas yang seharusnya tidak dilanggar. Namun, di rumah, ayahnya masih terbaring kesakitan. Ibunya terus bertanya kapan mereka bisa berangkat ke rumah sakit.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit.

Ama Birri kembali memberi uang. Kali ini jumlahnya lebih besar. Ada uang untuk membeli obat, ada uang untuk biaya perjalanan, dan ada pula bantuan berupa beras bagi keluarganya.

Setiap bantuan membuat beban keluarganya terasa sedikit lebih ringan.

Namun, setiap bantuan juga membuat Peda Kii semakin sulit melepaskan diri.

Ia merasa berutang budi.

Ia takut jika menolak Ama Birri, lelaki itu akan berhenti membantu. Ia takut harus kembali melihat ayahnya menahan sakit tanpa pengobatan yang memadai.

Perlahan-lahan, batas yang dahulu dijaganya mulai kabur.

Hubungan mereka tumbuh bukan dari cinta yang bebas dan jujur, melainkan dari pertemuan antara kepentingan, kelemahan, dan keinginan yang tidak dikendalikan.

Peda Kii berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya dilakukan demi keluarga.

Bukankah ia ingin ayahnya sembuh?.

Bukankah ia ingin ibunya tidak lagi menangis setiap malam?.

Bukankah ia hanya ingin keluar dari kemiskinan yang selama ini membelenggu hidupnya?.

Namun, semakin sering ia mengulang pertanyaan-pertanyaan itu, semakin keras suara kecil dalam hatinya menegur.

Jika memang pertolongan itu tulus, mengapa harus disembunyikan?.

Jika memang tidak ada yang salah, mengapa ia harus berbohong?.

Dan jika hubungan itu benar-benar cinta, mengapa ia selalu merasa takut setiap kali Ama Birri menyebut nama istrinya?.

Pertanyaan-pertanyaan itu datang, tetapi Peda Kii tidak pernah sungguh-sungguh menjawabnya.

Sementara itu, Ama Birri semakin menikmati hubungan tersebut.

Di mata Peda Kii, ia adalah orang yang telah menyelamatkan keluarganya dari kesulitan.

Di mata Ama Birri, Peda Kii adalah perempuan muda yang dapat didekatinya tanpa harus mengubah kehidupan nyaman yang telah dibangunnya bersama keluarga.

Ia tetap pulang ke rumah besar dengan dua sepeda motor di halaman. Ia tetap duduk makan bersama istri dan ketiga anaknya. Ia tetap menerima sapaan hormat dari orang-orang desa.

Peda Kii, sebaliknya, harus menyembunyikan banyak hal.

Mereka bertemu ketika PAUD sedang sepi, di kebun kemiri yang jauh dari keramaian, atau di gudang belakang kios ketika tidak ada orang.

Hubungan itu berlangsung cukup lama tanpa diketahui masyarakat.

Peda Kii bahkan mulai menganggap perhatian Ama Birri sebagai sesuatu yang menyerupai cinta.

"Kau cantik, Ki,i," kata Ama Birri suatu kali. "Kau seharusnya hidup lebih baik daripada sekarang."

Peda Kii tersenyum kecil.

Untuk sesaat, ia ingin percaya bahwa kalimat itu benar-benar lahir dari ketulusan.

Ia ingin percaya bahwa dirinya bukan sekadar perempuan miskin yang sedang membutuhkan uang.

Namun, ada satu hal yang tak pernah berani ia tanyakan.

Jika Ama Birri sungguh-sungguh menyayanginya, mengapa ia tidak pernah berani berdiri di sampingnya di hadapan keluarganya sendiri?.

Pertanyaan itu dibiarkannya mengendap.

Ia memilih bertahan dalam kebohongan yang memberinya sedikit kelegaan, tetapi perlahan merampas ketenangan hidupnya.

Ayahnya akhirnya bisa mendapatkan pengobatan. Kondisinya berangsur membaik. Ibunya kembali bisa tersenyum.

Bagi keluarga itu, bantuan Ama Birri terasa seperti jawaban atas doa-doa yang selama ini mereka panjatkan.

Mereka tidak mengetahui harga yang diam-diam dibayar oleh anak perempuan mereka.

Dan Peda Kii sendiri belum sepenuhnya memahami bahwa pertolongan yang tidak memiliki batas dan kejelasan dapat berubah menjadi belenggu yang semakin sulit diputuskan.

4. Rahasia yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan.

Orang-orang tua di desa kami sering berkata, sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan sesuatu, pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Begitu pula dengan rahasia Peda Kii dan Ama Birri.

Keretakan itu bermula dari sesuatu yang tampaknya sepele.

Suatu sore, Inna Kadi menemukan selembar bukti transfer di saku celana suaminya. Ada sejumlah uang yang dikirim kepada seseorang bernama Peda Kii.

Inna Kadi membaca nama itu berulang kali.

Ia mengenal Peda Kii. Perempuan muda itu adalah guru PAUD di desa mereka. Sesekali, Inna Kadi bahkan pernah melihatnya datang ke kios untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Mengapa suaminya mengirim uang kepada perempuan itu?.

Pertanyaan tersebut terus mengganggu pikirannya.

Ia tidak langsung mengamuk. Ia tidak pula segera menuduh suaminya.

Ia memilih diam dan mengamati.

Hari demi hari, ia mulai memperhatikan kebiasaan Ama Birri. Ada pesan-pesan yang segera dihapus. Ada alasan-alasan yang terdengar tidak masuk akal. Ada waktu-waktu tertentu ketika suaminya pergi tanpa menjelaskan dengan terang ke mana ia akan pergi.

Kecurigaan yang semula kecil perlahan berubah menjadi keyakinan yang menyakitkan.

Sampai suatu sore, Inna Kadi mengikuti suaminya.

Ia melihat Ama Birri berjalan menuju bagian belakang bangunan tempat Peda Kii mengajar.

Dari kejauhan, Inna Kadi berhenti.

Apa yang dilihatnya membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga.

Di tempat yang sunyi itu, suaminya sedang memeluk Peda Kii.

Untuk beberapa saat, Inna Kadi hanya berdiri mematung.

Ia tidak tahu berapa lama dirinya menatap pemandangan itu. Ia tidak tahu pula bagaimana harus mengartikan semua yang telah dilihatnya.

Lelaki yang selama ini dipanggilnya suami.

Ayah dari ketiga anaknya.

Lelaki yang ia dampingi sejak kehidupan mereka belum semapan sekarang.

Kini berdiri dalam pelukan perempuan lain.

Ketika akhirnya Ama Birri menyadari kehadirannya, wajahnya berubah pucat.

"Inna..." suaranya tertahan.

Peda Kii segera melepaskan diri.

"Inna, saya..."

"Jangan!" bentak Inna Kadi.

Suaranya bergetar. Matanya dipenuhi air mata.

"Jangan panggil nama saya seolah-olah tidak ada apa-apa!"

Ama Birri mencoba mendekat.

"Tunggu dulu. Saya bisa menjelaskan."

"Menjelaskan apa?" Inna Kadi menatap suaminya dengan wajah terluka. "Berapa lama ini berlangsung? Berapa banyak kebohongan yang harus saya telan tanpa tahu apa-apa?"

Ama Birri terdiam.

Peda Kii ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin menjelaskan tentang ayahnya yang sakit dan uang yang telah diterimanya.

Namun, semua alasan itu terasa begitu kecil di hadapan seorang perempuan yang baru saja menyaksikan kehancuran rumah tangganya sendiri.

"Saya minta maaf, Inna," ucap Peda Kii akhirnya.

Inna Kadi menoleh kepadanya.

"Apakah kau pernah memikirkan saya? Apakah kau pernah memikirkan anak-anak saya?"

Peda Kii tidak mampu menjawab.

"Kalau kau membutuhkan pertolongan, mengapa harus mengambil bagian dari kehidupan keluarga saya?"

Pertanyaan itu menghantam Peda Kii lebih keras daripada makian apa pun.

Sebab, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak mempunyai jawaban yang dapat menghapus luka tersebut.

Inna Kadi pergi dengan air mata yang tak lagi mampu dibendung.

Dan sejak sore itu, rahasia yang selama berbulan-bulan mereka jaga tidak lagi menjadi milik mereka berdua.

Kabar tersebut menyebar ke seluruh desa.

Dari kios Kalada Bulle, ke rumah-rumah penduduk, hingga ke halaman gereja dan balai desa.

Nama Peda Kii menjadi bahan percakapan di mana-mana.

Sebagian orang mengutuknya.

Sebagian lainnya merasa kasihan, tetapi memilih diam.

Ada pula yang dengan mudah menghakimi, seolah-olah mereka tidak pernah memiliki kelemahan atau menyimpan kesalahan sendiri.

Inna Kadi membawa ketiga anaknya ke rumah orang tuanya. Rumah Ama Birri yang dahulu ramai kini terasa dingin. Orang-orang yang biasanya datang untuk membeli barang atau berbincang dengannya mulai menjaga jarak.

Namun, bagi Ama Birri, perubahan itu tidak berlangsung lama sebagai sebuah penderitaan yang harus ia tanggung bersama.

Ketika menghadapi tekanan, ia justru mencari seseorang untuk disalahkan.

Dan orang itu adalah Peda Kii.

"Jangan hubungi saya lagi!" katanya melalui telepon.

Peda Kii terdiam.

"Ama, saya hanya ingin bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Rumah tangga saya hancur karena kamu!"

Peda Kii menggenggam teleponnya erat-erat.

"Tapi, Kakak juga..."

"Sudah! Jangan ganggu saya lagi!"

Sambungan telepon terputus.

Peda Kii menatap layar telepon yang telah gelap.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa mudahnya seseorang yang dahulu menjanjikan pertolongan berubah menjadi orang yang menyangkal keterlibatannya sendiri.

Ama Birri kembali ke rumahnya, menghadapi persoalan rumah tangganya dengan caranya sendiri.

Sementara Peda Kii harus menanggung gelombang penghinaan yang datang dari segala arah.

Dan tidak seorang pun dapat mengembalikan kehidupan mereka seperti semula.

5. Ketika Desa Menjadi Hakim.

Hukuman sosial datang tanpa surat panggilan, tanpa ruang pembelaan, dan tanpa kesempatan untuk mengajukan keberatan.

Cukup satu kabar yang dipercaya banyak orang, lalu seluruh desa merasa berhak menentukan siapa yang pantas dihormati dan siapa yang harus dijauhi.

Peda Kii merasakan semuanya.

Anak-anak yang dahulu berlari menyambutnya di depan kelas kini tidak lagi datang mendekat. Beberapa orang tua menarik anak mereka dari PAUD.

"Kami tidak mau anak kami diajar oleh perempuan seperti itu," kata seorang ibu kepada kepala PAUD.

Kepala PAUD berada dalam posisi sulit. Setelah mempertimbangkan tekanan masyarakat, ia meminta Peda Kii berhenti mengajar untuk sementara waktu.

Peda Kii menerima keputusan itu dengan kepala tertunduk.

Ia tidak berusaha membantah.

Bukan karena ia merasa semua perlakuan itu adil, melainkan karena ia sendiri tahu telah melakukan kesalahan yang melukai orang lain.

Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa kesalahannya akan menyeret begitu banyak orang yang tidak terlibat.

Ibunya kehilangan pekerjaan.

Majikannya tidak ingin lagi mempekerjakannya karena malu mendengar gunjingan tentang anaknya.

Perempuan tua itu pulang dengan membawa beberapa helai pakaian dan wajah yang menyimpan kesedihan.

Ketika melihat ibunya melangkah memasuki rumah, Peda Kii berlari menyambut.

"Ibu..."

Ibunya hanya memandangnya lama.

Tidak ada bentakan. Tidak ada makian.

Justru itulah yang membuat hati Peda Kii semakin sakit.

"Maafkan saya, Ibu," katanya sambil menangis.

Ibunya duduk perlahan di balai-balai bambu.

"Ibu membesarkanmu dengan harapan kau bisa hidup lebih baik daripada kami," ucapnya lirih. "Ibu tidak pernah meminta kau menjadi kaya. Ibu hanya ingin kau menjaga dirimu, menjaga nama baikmu, dan tidak menyakiti orang lain."

Peda Kii berlutut di hadapan ibunya.

"Ibu, saya salah."

Ibunya mengusap air mata dengan ujung kain.

"Kalau kau tahu itu salah, mengapa kau terus melakukannya?"

Peda Kii membuka mulut, tetapi tak satu pun kata keluar.

Ia ingin bercerita tentang ayahnya yang sakit. Tentang uang yang tidak mereka miliki. Tentang Ama Birri yang datang dengan janji pertolongan. Tentang bagaimana rasa takut kehilangan bantuan membuatnya terus bertahan dalam hubungan yang seharusnya ia hentikan.

Namun, ia sadar bahwa penjelasan tidak serta-merta menghapus akibat dari perbuatannya.

Kemiskinan memang telah mempersempit pilihan hidupnya.

Keputusasaan telah melemahkan pertahanannya.

Dan Ama Birri telah memanfaatkan keadaan itu demi kepentingannya sendiri.

Tetapi semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa ada rumah tangga yang terluka dan kepercayaan yang telah dikhianati.

Peda Kii harus berani menghadapi kenyataan tersebut, betapapun pahitnya.

Beberapa hari kemudian, ayahnya kembali jatuh sakit.

Lelaki tua itu belum sepenuhnya pulih ketika mendengar kabar tentang anak perempuannya. Kesedihan dan tekanan yang menyelimutinya membuat keadaan kesehatannya kembali memburuk.

Peda Kii duduk di samping tempat tidurnya.

"Ayah, maafkan saya," bisiknya.

Ayahnya membuka mata perlahan.

Ia menatap anak perempuan yang dahulu dibanggakannya itu dengan tatapan lelah.

"Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian," katanya pelan. "Ayah tidak tahu apa yang kau pikirkan saat mengambil keputusan itu."

Peda Kii menunduk.

"Tapi, Nak, kesulitan hidup tidak boleh membuat kita kehilangan seluruh pegangan."

Air mata Peda Kii jatuh ke lantai tanah.

"Ayah..."

"Kalau kau salah, akui kesalahanmu. Kalau kau menyakiti orang lain, belajarlah bertanggung jawab. Tetapi jangan berhenti menjadi manusia hanya karena orang-orang tidak lagi percaya kepadamu."

Kata-kata itu terus terngiang di telinga Peda Kii.

Jangan berhenti menjadi manusia.

Di luar rumah, orang-orang mungkin telah memberinya nama baru. Mereka mungkin tidak lagi mau menyapanya. Mereka mungkin menganggap dirinya tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Namun, ayahnya mengingatkan bahwa kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus melakukan kesalahan berikutnya.

Sayangnya, tidak semua orang bersedia memahami hal itu.

Bagi masyarakat, Peda Kii telah berubah menjadi sebuah cerita yang mudah diceritakan dan mudah dihakimi.

Mereka tidak lagi melihat seorang perempuan yang pernah belajar dengan tekun, mengajar anak-anak dengan sabar, dan berjuang untuk menyelamatkan ayahnya.

Mereka hanya melihat Duri.

Dan semakin keras mereka menyebut nama itu, semakin sulit bagi Peda Kii untuk mengingat bahwa dirinya pernah memiliki nama yang lain.

6. Peda Kii yang Tersisa.

Sore itu, matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan.

Cahaya jingga menyentuh atap-atap rumah, menyapu jalan tanah yang mulai sepi, dan jatuh di halaman rumah panggung Peda Kii yang reyot.

Ia berdiri seorang diri di depan rumah.

Dari kejauhan, ia dapat melihat hamparan sawah milik orang lain yang mulai menguning. Angin bergerak pelan, menggoyangkan dedaunan di tepi jalan.

Dahulu, pemandangan itu selalu memberinya harapan.

Ia pernah membayangkan bahwa setelah ayahnya sembuh dan kehidupannya sedikit membaik, ia akan kembali mengajar. Ia akan menabung dari gajinya, sekecil apa pun jumlahnya. Ia akan memperbaiki rumah orang tuanya sedikit demi sedikit.

Ia juga pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, orang-orang akan memanggilnya dengan bangga.

Peda Kii.

Guru kecil yang mengajar anak-anak desa.

Namun, kini semuanya terasa begitu jauh.

Pekerjaannya terhenti.

Ibunya kehilangan mata pencaharian.

Ayahnya kembali sakit.

Dan Ama Birri, lelaki yang dahulu menjanjikan pertolongan, telah meninggalkannya menghadapi seluruh akibat itu seorang diri.

Peda Kii tidak sedang mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya.

Ia tahu dirinya telah mengambil keputusan yang keliru. Ia tahu hubungan yang dijalaninya telah melukai Inna Kadi dan ketiga anaknya.

Namun, ia juga tahu bahwa cerita mereka tidak sesederhana cerita tentang seorang perempuan berdosa dan seorang lelaki yang tidak bersalah.

Ama Birri bukan sekadar penolong yang kemudian kecewa. Ia adalah seorang suami yang mengetahui tanggung jawabnya, tetapi memilih menyalahgunakan kepercayaan seorang perempuan yang sedang berada dalam kesulitan.

Ia memiliki pilihan untuk membantu tanpa meminta balasan.

Ia memiliki pilihan untuk menjaga batas.

Ia memiliki pilihan untuk tidak mengkhianati istrinya.

Tetapi ia tidak memilih jalan itu.

Sementara Peda Kii, yang seharusnya dapat meminta bantuan melalui jalan lain, membiarkan keputusasaan menuntunnya melewati batas yang ia ketahui.

Mereka sama-sama mengambil keputusan.

Namun, ketika rahasia itu terbongkar, masyarakat seolah-olah hanya menemukan satu orang untuk dijadikan tempat menumpahkan seluruh kemarahan.

Peda Kii.

Duri.

Dari arah jalan, Kalli Ti'a melintas bersama beberapa perempuan lain. Ketika melihat Peda Kii berdiri di depan rumah, ia sengaja memperlambat langkah.

"Woi, Duri!" serunya.

Peda Kii menoleh.

"Kau berdosa! Kau berduri!"

Perempuan-perempuan yang berjalan bersamanya tertawa kecil.

Peda Kii tidak menjawab.

Ia hanya berdiri dengan mata berkaca-kaca, membiarkan kata-kata itu berlalu bersama angin sore.

Dahulu, ia mungkin akan menangis dan berlari masuk ke rumah. Dahulu, ia mungkin akan berusaha menjelaskan bahwa dirinya bukan orang seburuk yang mereka bayangkan.

Kini, ia terlalu lelah untuk membela diri di hadapan orang-orang yang tidak pernah benar-benar ingin mendengar.

Tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa diam bukan berarti seluruh persoalan telah selesai.

Ia masih harus menghadapi kesalahannya.

Ia masih harus menerima kenyataan bahwa kepercayaan tidak dapat dipulihkan hanya dengan air mata.

Dan jika suatu hari nanti kesempatan itu datang, ia harus belajar membangun kembali kehidupannya tanpa mengulangi kesalahan yang sama.

Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak PAUD sedang bernyanyi.

Suara itu membuat Peda Kii menoleh ke arah bangunan kecil tempat ia dahulu mengajar.

Ia mengenali lagu yang mereka nyanyikan.

Lagu yang pernah diajarkannya sendiri.

Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi segera menghilang ketika air matanya kembali jatuh.

Anak-anak itu masih bernyanyi.

Kelas itu masih berdiri.

Desa itu masih menjalani kehidupannya.

Hanya saja, Peda Kii tidak lagi berada di tengah-tengah mereka.

Ia memejamkan mata.

Dalam kesunyian itu, ia teringat nama yang diberikan ibunya bertahun-tahun silam.

Peda Kii.

Nama yang berarti baik.

Nama yang dahulu menjadi doa.

Nama yang ingin ia dapatkan kembali, bukan dengan meminta orang-orang melupakan kesalahannya, melainkan dengan belajar menjadi manusia yang lebih baik daripada dirinya yang kemarin.

Namun, ia juga memahami bahwa jalan menuju pengampunan tidak selalu terbuka hanya karena seseorang telah menyesal.

Ada luka yang memerlukan waktu panjang untuk sembuh.

Ada kepercayaan yang mungkin tidak pernah kembali.

Dan ada akibat dari sebuah keputusan yang harus ditanggung, bahkan setelah penyesalan datang.

Di desa kami, orang-orang masih memanggilnya Duri.

Mereka mungkin akan terus menyebut nama itu selama bertahun-tahun.

Tetapi, di dalam rumah panggung yang reyot itu, seorang ibu masih menyimpan harapan bahwa anak perempuannya kelak akan menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.

Sebab, seseorang mungkin pernah melakukan kesalahan.

Seseorang mungkin pernah melukai orang lain.

Namun, apakah sebuah kesalahan harus menjadi satu-satunya nama yang melekat pada dirinya seumur hidup?.

Pertanyaan itu menggantung di antara senja dan malam.

Tak ada yang menjawabnya.

Sementara itu, di kejauhan, suara anak-anak PAUD perlahan menghilang bersama tenggelamnya matahari.

Dan Peda Kii tetap berdiri di depan rumahnya, memandang jalan yang semakin gelap.

Ia pernah datang ke dunia dengan sebuah nama yang berarti kebaikan.

Ia pernah tersesat dalam keputusasaan.

Ia pernah melukai orang lain dan membiarkan dirinya terluka oleh pilihannya sendiri.

Kini, ia harus belajar bahwa jalan kembali menuju kebaikan tidak dimulai dengan menghapus masa lalu, melainkan dengan berani menghadapinya.

Sebab, duri yang tumbuh dari kesalahan tidak akan hilang hanya karena seseorang menangis.

Ia harus dicabut dengan kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk berubah.**

TAMAT

DISCLAIMER

Cerpen ini merupakan karya fiksi. Nama tokoh, karakter, peristiwa, dan latar cerita dibuat untuk kepentingan sastra. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, atau tempat dengan kenyataan, hal tersebut merupakan kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau menuduh individu maupun pihak tertentu. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan pengkhianatan, penyalahgunaan kepercayaan, ataupun tindakan yang merugikan orang lain, melainkan mengajak pembaca merenungkan hubungan antara kemiskinan, pilihan hidup, tanggung jawab, dan penghakiman sosial.

Terima kasih.@

( Red/Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp