Cerpen KETIKA IBLIS MENGAJUKAN PENSIUN DINI. by: Fren ( Fredy Malo).

Oleh: Redaksi
Selasa, 29 Sep 2026 | 00:55 WITA 5 menit baca 318 dibaca
Cerpen


KETIKA IBLIS MENGAJUKAN PENSIUN DINI.

by: Fren ( Fredy Malo).
Drs. Fredy Malo, M.M. Sumber: Nusaaksaranews.com

Sumba Barat Daya, 29/09/26, nusaaksaranews.com — Kantor Neraka hari itu sepi.

Biasanya, dari pagi sampai tengah malam, ruangan itu penuh dengan jeritan, tawa, dan laporan-laporan penggodaaan. Iblis-Iblis kecil berlarian membawa map berisi daftar nama manusia yang berhasil disesatkan. Ada yang berhasil membuat seorang kepala desa korupsi dana bansos, ada yang berhasil membuat seorang suami selingkuh, ada yang berhasil membuat seorang anak durhaka kepada orang tuanya.

Tapi sudah seminggu, Ketua Iblis tidak keluar dari ruangannya.

Di dalam ruangan batu hitam yang panas itu, Ketua Iblis hanya duduk. Di depannya, di atas meja yang terbuat dari bara, tergeletak selembar kertas putih yang sudah kusut. Sudah tujuh kali ia tulis, tujuh kali ia robek.

Asistennya, Iblis Kecil yang tanduknya masih bengkok sebelah, memberanikan diri masuk.

"Ketua, laporan mingguan sudah masuk," katanya sambil menyodorkan map tebal.

Ketua Iblis tidak melirik. "Laporan apa?"

"Laporan korupsi, Ketua. Di Dunia Manusia, ada pejabat yang korupsi dana pendidikan 20 miliar."

Ketua Iblis menghela napas. "Itu bukan pekerjaan kita. Kita belum menggodanya."

Iblis Kecil bingung. "Maksud Ketua?"

"Kemarin aku sudah ke sana. Aku mau membisikkan cara memotong anggaran 10 persen. Tapi sebelum aku berbisik, dia sudah memotong 100 persen. Sisanya, dia ganti dengan kertas kosong. Aku kalah cepat."

Iblis Kecil diam.

Ketua Iblis berdiri. Ia mengambil kertas putih yang kusut itu dan meratakannya.

"Aku sudah memutuskan. Aku mau resign. Aku mau mengajukan pensiun dini. Pekerjaan kita sudah diambil alih oleh manusia."

Iblis Kecil terkejut. "Jangan, Ketua! Kita ini sudah bekerja sejak zaman Adam!"

"Justru itu. Zaman dulu, untuk membuat manusia korupsi, kita harus bekerja keras. Kita harus bisikkan berhari-hari, kita harus rayu, kita harus janjikan kenikmatan. Sekarang? Tidak perlu. Manusia melakukannya dengan kesadaran penuh, dengan tawa, dengan pesta."

Ketua Iblis memasukkan kertas itu ke dalam amplop hitam.

"Aku mau antarkan sendiri surat ini kepada Tuhan. Secara offline."

Perjalanan dari Neraka ke Surga adalah perjalanan terjauh yang pernah dilakukan Iblis sejak ia diusir. Ia harus melewati Padang Penantian, melewati Jembatan Sirath yang licin, dan mengetuk Gerbang Cahaya yang dulu pernah menjadi rumahnya.

Gerbang itu terbuka sendiri. Tidak ada penjaga yang menahannya.

Di dalam, cahaya itu tidak menyilaukan. Cahaya itu lembut. Di tengah cahaya itu, ada Takhta.

Iblis berlutut. Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, ia memberi salam dengan tulus.

"Ya Tuhan..."

Suara itu menjawab, tidak dengan murka, tapi dengan ketenangan yang membuat Iblis semakin kecil.

"Selamat datang, Iblis. Apa yang membawamu kemari? Kau sudah lama tidak datang."

Dengan tangan gemetar, Iblis menyerahkan amplop hitam itu. Seperti seorang pegawai yang menyerahkan surat pengunduran diri kepada pemilik perusahaan.

"Saya ingin berhenti, Tuhan. Saya ingin pensiun dini dari pekerjaan saya sebagai penggoda."

Tuhan menerima amplop itu. Dibukanya perlahan.

Isinya hanya beberapa baris:

Ya Tuhan, saya Iblis, mengajukan pengunduran diri karena semua pekerjaan saya telah diambil alih oleh manusia.

Tuhan menatap Iblis. "Jelaskan. Apa maksudmu diambil alih?"

Saat itulah tangis Iblis pecah. Tangis yang tidak pernah didengar oleh siapa pun, bahkan oleh penghuni neraka sekalipun.

"Ya Tuhan, Engkau tahu pekerjaan utama saya adalah korupsi. Saya yang mengajarkan manusia pertama kali bagaimana caranya mengambil hak orang lain."

"Saya ajarkan mereka: ambil sedikit, sisakan sedikit agar tidak ketahuan. Tapi sekarang, manusia tidak begitu. Uang untuk mensejahterakan rakyat, uang untuk membangun sekolah, untuk puskesmas, untuk jalan desa — belum sempat saya sentuh, sudah habis dirampok oleh mereka sendiri."

Air mata Iblis menetes dan menguap menjadi asap.

"Mereka pakai uang itu untuk membeli mobil mewah yang berjejer di garasi, padahal jalan di kampungnya masih berlumpur. Mereka pakai untuk membangun rumah bertingkat-tingkat, tinggi seperti Menara Babel yang dulu Engkau hancurkan karena kesombongan mereka. Mereka borong tanah di mana-mana, sampai petani tidak punya tempat untuk menanam padi."

Iblis menarik napas panjang.

"Mereka pakai uang itu untuk membiayai politik uang, untuk membeli suara rakyat yang lapar. Mereka pakai untuk menambah istri simpanan, suami simpanan, memelihara kekasih gelap di setiap kota. Mereka bagikan kepada anak, istri, keluarga, tim sukses, teman sekongsi. Mereka pakai untuk traveling keliling lima benua dengan pesawat carteran, tertawa-tawa di atas awan, tanpa pernah mengajak saya. Padahal saya yang dulu mengajari nenek moyang mereka cara berbohong pertama kali."

Setelah berkata demikian, Iblis tertunduk. Ia menunggu jawaban. Ia menunggu Tuhan marah, atau setidaknya menghiburnya.

Tapi Tuhan diam. Tidak ada respons. Hening.

Hening yang panjang. Hening yang lebih menyakitkan daripada siksaan api neraka.

Karena tidak ada jawaban, Iblis akhirnya pamit. Ia membungkuk, lalu berjalan mundur perlahan-lahan meninggalkan cahaya itu.

Sesampainya di tepi jurang neraka, Iblis Kecil sudah menunggu dengan cemas.

"Bagaimana, Ketua? Disetujui pensiunnya?"

Ketua Iblis menggeleng. Ia menatap ke bawah, ke arah Dunia Manusia yang dari kejauhan terlihat seperti kumpulan lampu-lampu indah, padahal di dalamnya penuh dengan tangisan.

"Tidak. Tuhan tidak menjawab. Dan diamnya Tuhan adalah jawaban paling keras."

"Maksudnya?"

Iblis duduk kembali di atas batu hitamnya.

"Diamnya Tuhan berarti: Aku tidak perlu pensiun, karena manusia sudah menjadi iblis bagi sesamanya. Jika aku pensiun, mereka akan tetap korupsi. Jika aku bekerja, mereka juga tetap korupsi. Jadi untuk apa aku bekerja? Aku kini hanya penonton."

Malam itu, Iblis tidak menggoda siapa pun. Ia hanya duduk, menonton berita dari Dunia Manusia: seorang pejabat tertangkap korupsi lagi, seorang bupati membangun istana dari uang rakyat lagi, seorang kontraktor tertawa setelah memenangkan proyek fiktif lagi.

Iblis menutup matanya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kasihan kepada manusia. Bukan karena mereka digoda olehnya, tapi karena mereka sudah tidak butuh godaannya lagi untuk menjadi jahat.

Dan di bawah sana, di Dunia Manusia, pesta masih terus berlangsung.##

TAMAT

Catatan Redaksi : Semua Tokoh dan Peristiwa merupakan Bagian dari Karya Fiksi.@

(Red/YK).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp