WEETOBULA, 17/10/26, nusaaksaranews.com — 1. Keluarga yang Kaya di Mata Adat
Ama Birri dan Peda adalah sepasang suami-istri. Rumah mereka ada di ujung kampung, jauh dari kota Waingapu. Untuk sampai ke sana, orang harus melewati jalan tanah berbatu, melewati padang sabana yang luas.
Mereka dikaruniai tiga orang anak. Kalada Bulle anak pertama, Inna Kadi anak kedua, dan si bungsu Kalli Ti'a. Ketiganya sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Seragam mereka sudah pudar, tapi mereka tetap rajin berangkat setiap pagi, berjalan kaki sejauh tiga kilometer.
Pasangan ini memegang teguh tradisi dan ritual budaya. Sangat teguh. Di kampung kami, nama Ama Birri dikenal karena itu.
Jika ada ritual kematian, ia ada. Jika ada peminangan perempuan atau belis, ia ada. Jika ada urrata, ritual tolak bala, ia ada. Jika ada zaizo, ritual penyucian kampung, ia ada. Jika ada woleka, ritual syukuran panen, ia pun ada. Tidak pernah absen.
Setiap kali ia datang, ia tidak datang dengan tangan kosong. Banyak hewan sembelihan yang dikurbankannya. Kerbau ditebas lehernya, babi ditikam di bagaian kaki dekat jantung, kuda disembelih. Hewan belis juga banyak ia berikan kepada keluarga lain untuk menjaga nama baik.
Karena itu, Ama Birri sekeluarga cukup terkenal. Di mata adat, mereka adalah keluarga kaya. Keluarga terhormat. Pemilik puluhan ekor kerbau, kuda, sapi, dan babi. Orang-orang berkata, "Kalau Ama Birri sudah bicara di forum adat, semua diam. Ia banyak berkorban."
Selain berpartisipasi di tempat orang lain, Ama Birri sendiri selalu mengadakan ritual di rumahnya sendiri. Hampir setiap bulan ada saja alasan. Bulan ini syukuran kandang baru, potong satu ekor babi. Bulan depan tolak hujan, potong satu ekor kerbau. Bulan depannya lagi janji leluhur yang belum ditepati, potong lagi dua ekor sapi.
Dari waktu ke waktu, Ama Birri tidak pernah absen dari kegiatan ritual budaya. Baik yang dilaksanakan di dalam desanya, di desa tetangga dalam satu kecamatan, maupun di desa tetangga yang berada di kecamatan yang berbeda. Praktis, nama Ama Birri cukup dikenal seantero kabupaten.
Tapi ada satu hal yang tidak banyak orang tahu. Di balik topeng kehormatan adat itu, ada kenyataan yang pahit.
Ama Birri dan Peda hanya berpendidikan drop out SD. Mereka tidak bisa membaca dengan lancar. Mereka tidak bisa menghitung dengan benar.
Rumah tinggal mereka sangat sederhana. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah lapuk, atapnya bocor di mana-mana. Makanan sehari-hari mereka kurang bergizi. Nasi jagung dengan garam, kadang dengan sayur daun singkong tanpa minyak. Daging yang berlimpah saat ritual, justru jarang mereka makan di hari biasa. Semua untuk orang lain, untuk adat.
Kesehatan diri pun kurang diperhatikan. Kamar mandi dan WC tidak tersedia. Jika buang air besar, buang air kecil, hutan dan kebun yang berada di belakang rumah mereka yang cukup luas menjadi WC umum yang digunakan oleh seluruh keluarga Ama Birri.
Di sinilah ironi itu dimulai. Kaya di mata adat, tapi miskin di mata kehidupan.
2. Sakit yang Salah Obat
Mungkin karena keluarga Ama Birri berada di lingkungan yang kurang higienis, ditambah makanan yang kurang bergizi dan kelelahan karena terus-menerus mengurus ritual budaya, Ama Birri pun jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk-batuk kecil. Lalu demam tinggi. Badannya menggigil, kakinya bengkak, ia tidak bisa pergi ke kebun lagi. Ia hanya terbaring di atas tikar pandan.
Peda, istrinya, menangis. Anak-anaknya, Kalada Bulle, Inna Kadi, dan Kalli Ti'a, hanya bisa melihat bapaknya menahan sakit.
Padahal, Ama Birri memiliki banyak hewan. Secara ekonomi, ia mampu untuk berobat. Ia bisa menjual satu ekor sapi dan pergi ke rumah sakit di kota. Ia bisa membeli obat yang bagus.
Tapi ia tidak melakukannya.
Bagi Ama Birri, penyakit yang dideritanya bukanlah penyakit medis. Ia yakin, ini adalah penyakit kutukan dari Marapu, arwah leluhur. Ia merasa, ada janji adat yang belum ia tepati. Ada ritual yang terlewat. Ada leluhur yang marah.
"Jangan bawa saya ke rumah sakit," kata Ama Birri dengan suara lemah kepada Peda. "Rumah sakit tidak mengerti penyakit Marapu. Panggil dukun adat dekat kita. Kita harus buat urrata. Kita harus buat zaizo."
Maka, untuk mengobati penyakitnya, Ama Birri tidak pernah bepergian untuk berobat ke rumah sakit, tetapi menggunakan pengobatan alternatif melalui ritual budaya.
Hari itu, tiga ekor kerbau miliknya dipotong. Darahnya dialirkan ke tanah. Dagingnya dibagikan ke seluruh kampung. Dukun adat tadi menari semalaman, memanggil arwah leluhur.
Orang kampung datang, makan, memuji Ama Birri, "Hebat, Ama Birri memang taat adat. Rela berkorban banyak untuk kesembuhan."
Tapi setelah ritual selesai, kesehatan Ama Birri tidak membaik. Justru memburuk.
Batuknya semakin keras. Demamnya semakin tinggi.
"Ada kutukan yang lebih besar," kata dukun adat itu. "Harus potong lagi. Dua ekor kuda dan lima ekor babi."
Dipotong lagi. Lagi. Dan lagi.
Hewan peliharaannya semakin berkurang. Satu per satu habis digunakan sebagai hewan ritual. Yang lebih menyedihkan, sebagian besar hewan itu sebenarnya bukan miliknya murni. Banyak di antaranya adalah hewan hutang. Hutang dari ritual sebelumnya. Hutang belis. Hutang ritual budaya kematian orang lain yang ia tanggung karena gengsi adat.
Untuk melanjutkan pengobatan alternatif dirinya, Ama Birri harus berutang hewan yang baru. Ia pergi ke tetangga, "Pinjam dulu kerbaumu, nanti saya ganti dua ekor kalau saya sembuh."
Hutang hewan semakin menumpuk. Kondisi kesehatan Ama Birri semakin menurun. Lingkaran setan itu berputar terus: sakit - ritual - potong hewan - hutang - sakit lagi.
Peda sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya melihat lumbungnya kosong, kandangnya kosong. Anak-anaknya mulai jarang sekolah karena harus menjaga bapaknya dan karena tidak ada uang untuk membeli buku.
Sampai pada suatu malam hujan yang sangat deras, Ama Birri menghembuskan napas terakhirnya.
Ia meninggal di atas tikar pandan yang sama, di rumah yang bocor itu, tanpa pernah melihat dokter. Di luar, tidak ada lagi suara kerbau atau kuda. Semua sudah habis. Yang tersisa hanya hutang.
3. Warisan yang Tertinggal
Ama Birri pergi. Tapi ia meninggalkan warisan. Bukan warisan harta, tapi warisan hutang.
Warisan hutang hewan.
Keesokan harinya setelah pemakaman, para pemilik hewan datang. Satu per satu. Mereka bukan datang untuk menghibur, tapi untuk menagih.
"Ama Birri pinjam dua ekor kerbau saya tahun lalu untuk ritual kematian pamannya, belum dikembalikan," kata salah satu tetangga terdekat dari kampung sebelah.
"Peda, ingat, suamimu masih hutang tiga ekor babi untuk belis adiknya," kata yang lain.
Catatan hutang itu panjang. Lebih dari dua puluh ekor kerbau, kuda, sapi, dan babi.
Istri dan anak-anaknya harus menanggung semua itu.
Bagaimana caranya? Tidak ada lagi hewan yang bisa dijual.
Akhirnya, Kalada Bulle, anak pertama yang baru kelas 6 SD, harus putus sekolah. Ia harus pergi merantau menjadi kuli di kebun orang untuk mencicil hutang bapaknya. Inna Kadi, anak kedua, juga putus sekolah. Ia ikut ibunya menjadi pembantu di rumah orang. Kalli Ti'a, si bungsu yang paling kecil, yang paling pintar di kelasnya, juga harus berhenti. Cita-citanya menjadi guru, pupus.
Anak-anaknya pun putus sekolah di tingkat pendidikan Sekolah Dasar, seperti pendidikan ayah dan ibu mereka. Biaya pendidikan untuk melanjutkan ke SMP pun tak mampu dibiayai. Semua uang, semua tenaga, habis untuk membayar hutang adat yang tidak pernah ada habisnya.
Mereka hidup menderita. Menderita secara ekonomi, karena tidak punya apa-apa lagi. Menderita secara pendidikan, karena gelap huruf. Menderita secara kesehatan, karena masih tinggal di lingkungan yang tidak higienis, tanpa WC, tanpa gizi.
Pada suatu malam, setelah seharian bekerja mencangkul kebun orang lain untuk membayar hutang seekor babi, ketiga anak itu duduk di depan kubur bapaknya. Kubur yang bahkan tidak punya batu nisan yang layak, karena semua uang habis untuk ritual.
Kalli Ti'a, si bungsu, menangis paling keras.
Ia tidak menangis karena bapaknya meninggal. Ia menangis karena ia mengerti.
"Oh Mama... Oh Papa...!!!" jeritnya dalam bahasa Sumba yang lirih. "Kenapa kalian lebih sayang pada adat daripada pada kami? Kenapa kalian lebih takut pada kutukan Marapu daripada melihat kami lapar dan bodoh? Kalian potong kerbau untuk leluhur yang sudah mati, tapi kalian biarkan kami, anak-anak kalian yang masih hidup, mati pelan-pelan."
Peda, ibunya, hanya bisa memeluk ketiga anaknya. Air matanya jatuh ke tanah kering.
Ia baru sadar, apa arti semua ritual yang mereka lakukan selama ini, jika pada akhirnya anak-anaknya harus mengucapkan penyesalan itu.
Sebuah ungkapan penyesalan atas pola pikir orang tuanya yang sangat kontraproduktif. Pola pikir yang menganggap kehormatan di mata adat lebih penting daripada kehidupan nyata anak-anaknya sendiri.
Angin sabana bertiup kencang malam itu. Membawa bau tanah dan bau kemiskinan yang tidak pernah pergi dari rumah Ama Birri.
4. Peda Menjadi Inna Koni
Setelah Ama Birri meninggal, Peda tidak lagi dipanggil Peda. Orang kampung mulai memanggilnya Inna Koni, janda dari Ama Birri. Sebutan untuk janda yang menanggung hutang.
Hari-hari Inna Koni adalah hari-hari menunduk. Setiap pagi, sebelum matahari naik, ia sudah berjalan ke kebun orang lain. Menjadi buruh. Upahnya bukan uang, tapi jagung setengah karung. Kadang hanya janji, "Nanti kalau panen berhasil, saya kasih satu ekor anak babi untuk cicil hutang almarhum."
Rumah panggung yang bocor itu semakin miring. Tidak ada lagi suara kerbau. Tidak ada lagi suara kuda. Yang ada hanya suara tikus di atap.
Kalada Bulle, anak pertama, yang baru berusia 13 tahun, kini menjadi tulang punggung. Ia merantau ke Waingapu, menjadi kuli bangunan. Tangannya yang dulu memegang pensil untuk menulis huruf A, B, C, kini memegang cangkul dan ember semen. Upahnya Rp 50.000 sehari. Dari uang itu, Rp 40.000 ia kirim untuk ibunya, untuk membayar hutang seekor babi milik tetangga. Rp 10.000 ia simpan untuk makan.
Suatu hari Kalada Bulle pulang. Bajunya penuh debu semen. Ia melihat adiknya, Inna Kadi, yang berusia 11 tahun, tidak lagi memakai seragam sekolah. Ia memakai daster ibunya yang kebesaran, sedang mencuci piring di rumah orang kaya di kampung sebelah.
"Kakak," kata Inna Kadi pelan, "Ibu bilang, saya tidak usah sekolah lagi. Biar Kalli Ti'a saja yang sekolah, kalau ada uang."
Kalada Bulle tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah, melihat Kalli Ti'a, si bungsu yang baru kelas 4 SD dan paling pintar, sedang duduk di lantai tanah. Di depannya ada buku tulis yang sudah hampir habis, ia menulis dengan pensil yang tinggal setengah jengkal.
Kalli Ti'a masih bersekolah. Tapi ia berjalan tanpa sepatu, bukunya satu, dan ia selalu datang terlambat karena harus membantu ibunya mencari kayu bakar dulu.
Di malam itu, ketiga anak itu kembali duduk di depan kubur bapaknya. Tapi kali ini tidak ada jeritan "Oh Mama... Oh Papa...!!!". Yang ada hanya diam yang panjang.
Kalada Bulle akhirnya bicara, "Kita tidak boleh seperti Bapa. Bapa mati karena gengsi. Kita jangan mati karena gengsi juga."
Itu adalah sumpah pertama mereka.
5. Hutang yang Beranak
Hutang hewan di Sumba itu tidak seperti hutang uang. Ia beranak.
Jika Ama Birri hutang satu ekor kerbau besar, maka ia harus mengembalikan dua ekor kerbau besar. Jika hutang satu ekor kuda, kembalinya satu ekor kuda dan satu ekor anak kuda. Jika tidak dikembalikan dalam satu musim adat, bunganya bertambah lagi. Satu ekor menjadi dua, dua menjadi empat.
Inilah yang membuat Inna Koni tidak pernah lunas.
Pada musim woleka tahun itu, datanglah Dukun adat yang dulu pernah mengobati Ama Birri. Ia datang bukan untuk mendoakan, tapi untuk menagih.
"Peda," katanya, "Waktu ritual urrata untuk suamimu dulu, kau masih kurang satu ekor kerbau jantan berumur tiga tahun. Kerbau itu sekarang sudah beranak dua kali di kandang saya. Jadi kau hutang tiga ekor sekarang."
Peda terdiam. Ia ingin marah, tapi ia takut. Takut dikutuk Marapu. Takut dikucilkan dari kampung.
Kalli Ti'a yang kecil, yang dari tadi mendengarkan dari balik dinding bambu, tiba-tiba keluar.
"Bapak Dukun adat ," kata anak kelas 4 SD itu dengan suara gemetar, "Bapa saya sudah mati karena ritual Bapak. Masa Bapak sudah mati, Bapak masih hutang lagi? Kalau begitu, sampai kapan kami lunas?"
Dukun adat itu terkejut. Tidak pernah ada anak kecil yang berani membantah tetua adat.
"Anak kecil jangan ikut campur urusan adat!" bentaknya.
Tapi Kalli Ti'a tidak takut lagi. Ia sudah terlalu sakit hati.
"Adat itu untuk bikin orang hidup, bukan untuk bikin orang mati, Ama!" jeritnya.
Kalimat itu seperti petir di kampung yang sepi itu.
Dukun adat pun pergi dengan marah. Tapi sejak hari itu, beberapa tetangga mulai berbisik-bisik. Mereka mulai melihat apa yang selama ini tidak mereka lihat: bahwa banyak keluarga seperti keluarga Ama Birri. Kaya di mata adat, tapi hancur di kehidupan nyata.
Malamnya, Inna Koni memeluk Kalli Ti'a erat-erat.
"Maafkan Mama, anakku," bisik Inna Koni untuk pertama kalinya. "Mama yang bodoh. Mama drop out SD, jadi Mama pikir adat adalah segalanya. Mama tidak tahu, sekolahmu lebih penting dari kerbau."
Itu adalah pengakuan pertama seorang ibu.
6. Memutus Rantai Duri
Setahun kemudian, perubahan kecil terjadi.
Kalada Bulle, yang bekerja sebagai kuli di Waingapu, bertemu dengan seorang pastor. Pastor itu melihat Kalada Bulle yang rajin, yang setiap istirahat membaca buku bekas yang ia pungut dari tempat sampah proyek.
Pastor itu bertanya, "Kenapa kau tidak sekolah?"
Kalada Bulle menjawab jujur, "Saya harus bayar hutang kerbau bapak saya, Romo. Dua puluh ekor."
Pastor itu diam lama. Lalu ia berkata, "Bapakmu sudah mati. Hutang adat tidak boleh membunuh anak-anaknya yang masih hidup. Gereja punya program beasiswa untuk anak putus sekolah. Kau mau sekolah lagi?"
Kalada Bulle menangis. Untuk pertama kalinya setelah setahun, ia menangis bukan karena lelah, tapi karena ada harapan.
Ia pulang ke kampung. Ia mengumpulkan ibu dan kedua adiknya.
"Mama, kita harus putus," katanya.
"Putus apa?" tanya Inna Koni.
"Putus rantai duri ini. Mulai hari ini, kita tidak akan berutang hewan lagi untuk ritual. Kalau ada ritual kematian, kita datang, kita bantu tenaga, kita bantu doa, tapi kita tidak potong kerbau kalau kita tidak punya. Kalau ada yang memaksa kita hutang, kita bilang tidak. Biar mereka bilang kita miskin adat, tidak apa-apa. Lebih baik miskin adat, daripada miskin betulan dan bodoh."
Inna Kadi mengangguk. Kalli Ti'a memeluk kakaknya.
Inna Koni awalnya takut. Sangat takut akan kutukan Marapu, akan omongan orang. Tapi ketika ia melihat mata ketiga anaknya yang sudah terlalu banyak menderita, ia akhirnya mengangguk.
"Baik, anakku. Mama setuju."
Sejak hari itu, keluarga Ama Birri tidak lagi mengadakan ritual besar-besaran. Ketika ada tetangga yang meninggal, mereka datang membawa satu ember air dan tenaga untuk menggali kubur, bukan kerbau. Ketika ada peminangan, mereka datang membawa satu kain tenun hasil tenunan Inna Koni sendiri, bukan kuda.
Awalnya, mereka dicibir. "Keluarga Ama Birri sudah jatuh miskin, tidak mampu adat lagi," kata orang.
Tapi lama-lama, orang melihat: Kalada Bulle sudah menyelesaikan sekolah paket B dan kembali sekolah paket C di Waingapu sambil tetap menjadi kuli. Inna Kadi kembali ke PAUD, bukan sebagai murid, tapi ia belajar menjahit dari suster. Dan Kalli Ti'a, si bungsu, menjadi juara 1 di kelasnya. Ia tetap berjalan tanpa sepatu, tapi kepalanya penuh dengan cita-cita.
Suatu sore, tiga tahun setelah Ama Birri meninggal, Kalli Ti'a pulang membawa rapor. Juara 1.
Ia berlari ke kubur bapaknya. Kubur yang kini sudah ia bersihkan, ia beri batu nisan dari semen sisa bangunan tempat kakaknya bekerja.
Ia meletakkan rapor itu di atas kubur.
"Bapak," bisiknya, "Lihat, saya juara 1. Saya tidak potong kerbau untuk Bapak. Saya tidak buat urrata untuk Bapak. Tapi saya belajar untuk Bapak. Maafkan Mama dan Bapak, tapi kami harus hidup dengan cara yang baru. Kami tidak mau lagi bilang 'Oh Mama... Oh Papa...!!!' karena menyesal. Kami mau bilang 'Terima kasih Mama, terima kasih Papa' karena kami sudah berani putus."
Angin sabana bertiup lagi malam itu. Tapi kali ini, angin itu tidak membawa bau kemiskinan. Angin itu membawa bau buku tulis baru dan bau harapan.
Di kejauhan, lonceng gereja berbunyi. Bukan untuk ritual kematian. Tapi untuk misa syukur kenaikan kelas.
Dan untuk pertama kalinya, keluarga itu pergi ke gereja bukan sebagai penyumbang kerbau, tapi sebagai keluarga yang utuh, yang sudah berani memutus rantai duri yang selama ini melilit leher mereka.
TAMAT.
Catatan Redaksi : cerita ini merupakan cerita fiksi.
OH MAMA… OH PAPA…!!!
Cerpen sosial-budaya tentang kemiskinan, gengsi adat, utang yang diwariskan, dan masa depan anak-anak yang terabaikan.
Catatan: Cerita fiksi sosial-budaya. Tokoh dan peristiwa dalam cerpen ini merupakan rekaan untuk menyampaikan refleksi sosial.