DESA RAMAH ANAK, MENYIAPKAN GENERASI PEWARIS MASA DEPAN SUMBA. Opini - Oleh: Fransiskus Geli Pemerhati Anak.

Oleh: Redaksi
Selasa, 06 Okt 2026 | 03:07 WITA 4 menit baca 156 dibaca
DESA RAMAH ANAK, MENYIAPKAN GENERASI PEWARIS MASA DEPAN SUMBA.

Opini - 

Oleh: Fransiskus Geli
Pemerhati Anak.
Pantai Mananga Aba - Wanno Keti - Loura. Sumber: Nusaaksaranews.com

Loura - Karuni, 06/10/26, nusaaksaranews.com — «“Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: ‘Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.’”

(Markus 10:14)»

Ayat Injil Markus 10:14 menjadi salah satu sumber inspirasi dalam melihat pentingnya kehidupan dan masa depan anak. Sebagai seorang Katolik yang mengimani Yesus Kristus, saya memandang bahwa anak bukan sekadar bagian dari keluarga hari ini, tetapi pribadi yang sedang bertumbuh dan kelak menjadi bagian penting dari masa depan masyarakat.

Dari pemikiran sederhana tersebut, muncul gagasan tentang Desa Ramah Anak. Sebuah desa yang tidak hanya menyediakan ruang yang aman bagi anak, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka secara utuh.

Pertumbuhan seorang anak dimulai dari keluarga. Di dalam keluarga, anak pertama-tama mengenal kasih sayang, perhatian, tanggung jawab, nilai kehidupan dan cara berinteraksi dengan sesama. Setelah itu, anak bertumbuh dalam lingkungan masyarakat, mengenal adat-istiadat warisan leluhur, budaya, pendidikan dan kehidupan keagamaan.

Dalam konteks Sumba, semua unsur tersebut memiliki peranan penting. Anak-anak perlu mengenal jati dirinya, menghargai adat dan budaya, mencintai lingkungan, serta memahami nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Namun, pertumbuhan anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan. Kesehatan keluarga, makanan bergizi, pola asuh, perlindungan, lingkungan yang aman dan kesempatan untuk belajar dari kehidupan nyata juga merupakan bagian penting dalam membentuk masa depan mereka.

Karena itu, Desa Ramah Anak sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai pembangunan taman bermain atau tempat berkumpul anak. Maknanya jauh lebih luas, yaitu menciptakan lingkungan kehidupan yang memungkinkan anak tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan, merasa aman, mengenal nilai kehidupan, mengembangkan potensi dan belajar bertanggung jawab.

Untuk mewujudkannya tentu tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara keluarga, masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, lembaga adat, tenaga kesehatan dan berbagai unsur lainnya. Masing-masing dapat mengambil bagian sesuai tugas dan kemampuannya.

Gagasan Desa Ramah Anak juga perlu melihat kondisi nyata masyarakat Sumba. Setiap desa memiliki potensi, kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Karena itu, konsepnya tidak harus meniru daerah lain, tetapi dapat dikembangkan berdasarkan kekuatan masyarakat setempat, adat dan budaya Sumba, serta berjalan seiring dengan program pembangunan Pemerintah.

Di sisi lain, anak-anak Sumba sedang memasuki zaman yang sangat berbeda. Perkembangan teknologi dan arus informasi bergerak begitu cepat. Dunia yang dahulu terasa jauh kini dapat hadir melalui sebuah telepon genggam dalam hitungan detik.

Kemajuan teknologi tidak mungkin kita hindari. Anak-anak Sumba perlu dipersiapkan agar mampu mengenal, memahami dan menggunakan perkembangan teknologi secara bijaksana. Mereka membutuhkan pembelajaran yang lebih luas, bukan hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan nyata di keluarga, lingkungan, alam, masyarakat dan budaya mereka sendiri.

Di sinilah pendidikan karakter menjadi penting. Anak perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi masa depan, tetapi juga tetap memiliki kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, rasa hormat, iman dan kecintaan terhadap lingkungan serta budayanya.

Kemajuan zaman tidak harus membuat anak kehilangan akar. Justru anak perlu dibekali kemampuan untuk berjalan mengikuti perkembangan zaman sambil tetap mengenal siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Desa dapat menjadi ruang pembelajaran kehidupan yang sangat luas. Anak dapat belajar mengenal alam, pertanian, budaya, adat, kehidupan sosial, kesehatan, kreativitas, keterampilan dan teknologi. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Desa Ramah Anak pada akhirnya bukan sekadar sebuah program, melainkan sebuah gerakan bersama untuk melihat anak secara utuh. Keluarga, kesehatan, gizi, pola asuh, pendidikan, iman, adat, budaya, lingkungan sosial dan perkembangan teknologi semuanya berkaitan dengan perjalanan kehidupan anak menuju masa depannya.

Harapannya, gerakan Desa Ramah Anak dapat tumbuh menjadi gerakan bersama di seluruh Sumba, sejalan dengan program Pemerintah, lembaga keagamaan, lembaga adat serta nilai-nilai budaya yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat.

Sebab, membangun Desa Ramah Anak bukan hanya tentang bagaimana kita menjaga anak-anak hari ini, tetapi bagaimana kita mempersiapkan mereka menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Anak-anak Sumba hari ini adalah generasi pewaris masa depan Sumba. "Di tangan merekalah kelak perjalanan Sumba akan dilanjutkan, dengan segala kekayaan iman, adat, budaya, alam, ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman yang kita wariskan kepada mereka".@

(Red/ Yoseph Kalumbang).

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp