PERTOBATAN EKOLOGIS: MERAWAT BUMI DIMULAI DARI KELUARGA Oleh: Fransiskus Geli | Pemerhati Lingkungan dan Anak.

Oleh: Redaksi
Senin, 26 Okt 2026 | 03:04 WITA 3 menit baca 16 dibaca
PERTOBATAN EKOLOGIS: MERAWAT BUMI DIMULAI DARI KELUARGA

Oleh: Fransiskus Geli | Pemerhati Lingkungan dan Anak.
PERTOBATAN EKOLOGIS: MERAWAT BUMI DIMULAI DARI KELUARGA Oleh: Fransiskus Geli | Pemerhati Lingkungan dan Anak. Sumber: Nusaaksaranews.com

Loura,26/10/26, nusaaksaranews.com — Bumi adalah rumah bersama yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Namun, pemanasan global, kebakaran hutan, pembalakan liar, dan kerusakan lingkungan mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam perlu diperbaiki.

Melalui ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus mengajak umat manusia melakukan pertobatan ekologis, yakni perubahan hati dan cara hidup untuk merawat seluruh ciptaan. Seruan ini mengingatkan kita bahwa menjaga bumi bukan hanya urusan pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

Pada 1 September 2026, dalam homilinya pada Misa untuk Pemeliharaan Ciptaan di Castel Gandolfo, Paus Leo XIV kembali mengajak umat melakukan pertobatan ekologis yang nyata. Beliau mengingatkan bahwa perjumpaan dengan Yesus Kristus hendaknya tampak dalam hubungan kita dengan alam. Sesuatu yang sebelumnya digunakan untuk merusak dapat diarahkan kembali untuk menopang kehidupan dan menjaga ciptaan Tuhan.

Pesan kedua Paus ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada doa dan kata-kata, tetapi melanjutkannya melalui tindakan nyata.

Dalam perjalanan saya bersama komunitas Bimbingan Hidup Sehat Serikat Konfigurasi Kasih (BHS SKK) selama kurang lebih tujuh tahun, ada pesan dari pembimbing kami, Antonius Porat, yang terus membekas: “Allah menciptakan rumput dan tumbuhan untuk memperindah bumi.”

Kalimat sederhana ini mengajak saya melihat tumbuhan bukan sekadar penghias halaman, melainkan bagian dari keindahan ciptaan Tuhan yang perlu dirawat dan dihargai.

Semangat merawat ciptaan juga tampak dalam kehidupan umat Paroki Santo Dominikus de Guzman Karuni, Sumba Barat Daya. Sekitar empat tahun lalu, Pastor Paroki, Pater Robertus Melkior Bayo, CSsR, mengajak umat melibatkan pangan lokal dalam kegiatan gereja, mulai dari Misa lingkungan dan basis hingga rapat pastoral serta perayaan Natal dan Paskah. Setiap bulan Oktober, umat juga melaksanakan Misa Pemberkatan Benih untuk menyambut musim tanam.

Pada 23 Oktober 2026, Misa Pemberkatan Benih Lingkungan Gabriel dilaksanakan di pondok keluarga kami. Umat membawa makanan lokal hasil olahan dari basis masing-masing. Sebagai tuan rumah bersama pengurus lingkungan, kami menyiapkan hidangan sederhana dan benih tanaman pangan lokal untuk diberkati.

Setelah Misa, Pater Robertus Melkior Bayo, CSsR, bersama seorang suster dan Dewan Paroki melakukan penanaman pohon. Pada kesempatan itu, saya mengajak mereka dan umat menanam gembili sebagai tanda dimulainya penanaman pangan lokal Sumba. Saya juga mempersembahkan anakan gembili dan Sancha Inci yang telah bertunas serta membagikan bibit Sancha Inci kepada pastor, Dewan Paroki, dan umat yang berminat.

Bagi saya, kegiatan ini membawa pesan sederhana: doa perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata. Benih yang diberkati perlu ditanam, pohon yang ditanam perlu dirawat, dan tanah yang memberi kehidupan perlu dijaga.

Dalam kesempatan berbagi pengalaman sambil menikmati pangan lokal, saya menyampaikan bahwa sungai mengalir untuk menghidupkan. Ketika air sungai dibutuhkan untuk membantu memadamkan api, kita diingatkan betapa pentingnya air bagi kehidupan. Karena itu, sumber air dan lingkungan di sekitarnya perlu dijaga bersama.

Saya juga menyampaikan bahwa perlindungan anak dimulai dari keluarga dan lembaga agama, termasuk gereja. Anak-anak tidak hanya perlu diajak membaca buku, tetapi juga belajar memahami kehidupan dan merawat alam. Literasi hendaknya melahirkan kesadaran, kebiasaan baik, dan tindakan nyata.

Keluarga dapat memulainya dengan menanam pohon, merawat tanaman pangan, menjaga kebersihan, menghemat air, serta mengenalkan kekayaan pangan lokal kepada anak-anak. Langkah-langkah sederhana ini dapat menjadi teladan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi saya, pertobatan ekologis bukan sekadar ajakan mencintai alam melalui kata-kata. Pertobatan ekologis berarti mengubah cara hidup dan mengambil bagian dalam menjaga ciptaan Tuhan.

Merawat bumi dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Sebab, bumi yang kita rawat hari ini adalah bagian dari kehidupan yang akan diwariskan kepada anak-anak kita. Merawat bumi berarti menjaga kehidupan dan menumbuhkan harapan bagi masa depan Sumba.@

(Red/NAC).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp