POGOTENA–LOURA, 21 OKTOBER 2026., nusaaksaranews.com — MANANGA ABA, PANTAI YANG MENYIMPAN WARISAN LELUHUR.
Pantai Mananga Aba di Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki nilai alam, sejarah, dan budaya bagi masyarakat setempat. Keberadaannya tidak hanya memberikan keindahan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang patut dipelihara dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Salah satu kekayaan alam yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Loura adalah pohon cemara, yang dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan Bhugga. Pohon ini bukan sekadar bagian dari keindahan pantai, melainkan juga memiliki keterkaitan dengan ingatan kolektif dan identitas budaya masyarakat.
Nilai kearifan lokal tersebut dapat kita renungkan melalui ungkapan tradisional Katukku Lena – Katukku Mara. Dalam pemaknaan yang hidup di tengah masyarakat, Katukku dimaknai sebagai patok atau penanda, Lena sebagai air laut pasang, dan Mara sebagai daratan atau tanah kering.
Ungkapan Dhağa Katukku Lena – Dhağa Katukku Mara mengingatkan kita akan pentingnya memahami batas antara laut dan daratan serta menjaga hubungan yang seimbang antara manusia dan alam.
Kearifan leluhur ini patut menjadi bahan pembelajaran bersama. Alam bukan hanya tempat manusia mencari penghidupan, tetapi juga bagian dari lingkungan hidup yang perlu dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Karena itu, menjaga pohon Bhugga berarti turut memelihara kekayaan alam, nilai budaya, dan warisan leluhur yang memiliki arti bagi masyarakat Loura.
ABRASI PANTAI PERLU MENDAPAT PERHATIAN BERSAMA.
Sebagai kawasan pesisir, Pantai Mananga Aba perlu mendapat perhatian terhadap kemungkinan terjadinya abrasi atau pengikisan garis pantai. Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti gelombang, arus laut, kondisi sedimen, perubahan tutupan vegetasi, serta aktivitas manusia di sekitar pesisir.
Apabila abrasi terjadi dan terus meluas, dampaknya dapat memengaruhi kondisi lingkungan, keberadaan vegetasi pantai, serta kenyamanan dan keberlanjutan kawasan wisata. Dalam jangka panjang, perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada kawasan pesisir.
Oleh sebab itu, kondisi Pantai Mananga Aba perlu mendapat perhatian secara bersama-sama. Pengamatan lapangan dan kajian teknis akan membantu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat kerusakan, faktor penyebab, serta langkah penanganan yang sesuai.
Selain abrasi, aktivitas pengambilan pasir di kawasan pesisir juga perlu diperhatikan. Apabila terdapat indikasi bahwa aktivitas tersebut berdampak terhadap kestabilan pantai atau merusak lingkungan, diperlukan pemeriksaan oleh instansi berwenang agar penanganannya dapat dilakukan berdasarkan data dan ketentuan yang berlaku.
Hal ini bukan untuk mendahului hasil pemeriksaan ataupun menyimpulkan adanya pelanggaran, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kita tentu berharap agar setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya alam tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.
PERLU KAJIAN DAN KOORDINASI DALAM PENANGANAN ABRASI.
Dalam menghadapi persoalan abrasi, langkah awal yang penting adalah mengetahui kondisi pantai secara menyeluruh. Karena itu, koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan instansi teknis terkait kiranya dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong perhatian yang lebih terarah terhadap Pantai Mananga Aba.
Kajian tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kondisi garis pantai, arah gelombang dan arus, pergerakan pasir, keadaan tanah, serta keberadaan vegetasi yang berperan dalam menjaga lingkungan pesisir.
Berdasarkan hasil kajian, berbagai pilihan penanganan dapat dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kawasan. Pilihan tersebut dapat mencakup rehabilitasi vegetasi pantai, pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan, maupun pembangunan struktur pelindung pantai apabila dinilai diperlukan oleh tenaga teknis yang berkompeten.
Pembangunan fisik, termasuk struktur penahan abrasi atau pemecah gelombang, sebaiknya tidak dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Setiap bentuk intervensi perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap pergerakan sedimen dan kondisi pantai di sekitarnya.
Dengan demikian, upaya penanganan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah di satu titik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan kawasan pesisir secara lebih luas.
Dalam hal ini, pemerintah kecamatan dapat mengambil bagian melalui koordinasi, penyampaian aspirasi masyarakat, serta komunikasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait sesuai tugas dan kewenangannya.
Harapannya, perhatian terhadap Pantai Mananga Aba dapat berkembang menjadi langkah bersama yang terencana, bertahap, dan berkelanjutan.
MERAWAT BHUGGA, MEWARISKAN NILAI BUDAYA.
Keberadaan pohon Bhugga di Pantai Mananga Aba patut dijaga sebagai bagian dari kekayaan alam dan identitas budaya masyarakat Loura.
Langkah awal yang dapat didorong bersama adalah mendata keberadaan pohon-pohon yang masih tumbuh, mengenali kawasan yang memerlukan perlindungan, serta memperhatikan lokasi yang berpotensi mengalami kerusakan.
Apabila diperlukan penanaman kembali, kegiatan tersebut sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian jenis tanaman, kondisi tanah, paparan angin dan air laut, serta karakteristik lingkungan setempat.
Penanaman pohon juga perlu diikuti dengan pemeliharaan dan pemantauan. Dengan demikian, upaya penghijauan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan.
Keterlibatan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga pesisir sangat penting dalam mendukung upaya tersebut. Setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.
Di samping menjaga pohon, nilai budaya yang terkandung dalam ungkapan Katukku Lena – Katukku Mara juga perlu diperkenalkan kepada generasi muda. Cerita, pengetahuan, dan pemaknaan yang diwariskan oleh para leluhur merupakan bagian penting dari pendidikan budaya di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. Pohon Bhugga tetap terjaga, sementara nilai-nilai kearifan lokal terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
PENGEMBANGAN WISATA SEBAIKNYA SEJALAN DENGAN PELESTARIAN.
Pantai Mananga Aba memiliki potensi untuk terus dikenal sebagai kawasan yang menawarkan keindahan alam sekaligus kekayaan budaya lokal. Potensi tersebut tentu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat apabila dikelola secara bijaksana.
Namun, pengembangan kawasan wisata perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan daya dukung pantai. Kebersihan, kelestarian vegetasi, keselamatan pengunjung, serta kepentingan masyarakat pesisir hendaknya menjadi bagian dari pertimbangan dalam setiap rencana penataan kawasan.
Apabila terdapat rencana pembangunan fasilitas wisata atau sarana pendukung bagi nelayan, pembahasannya perlu melibatkan pihak-pihak terkait agar lokasi dan bentuk pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling mendukung apabila direncanakan dengan baik dan dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Kita berharap Pantai Mananga Aba dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa kehilangan keindahan alam dan nilai budaya yang menjadi kekuatannya.
DARI KEPEDULIAN MENUJU LANGKAH NYATA.
Menjaga Pantai Mananga Aba bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Pemerintah, masyarakat, tokoh adat, generasi muda, dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kawasan ini dapat mengambil bagian sesuai peran masing-masing.
Langkah-langkah yang dapat didorong bersama antara lain peningkatan perhatian terhadap kondisi pantai, koordinasi untuk memperoleh kajian teknis, pemeliharaan vegetasi pesisir, edukasi kepada masyarakat, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan.
Keterbukaan informasi mengenai kondisi pantai dan rencana penanganannya juga penting agar masyarakat dapat memahami perkembangan yang terjadi serta turut memberikan masukan secara konstruktif.
Sebagai bagian dari pemerintah di tingkat kecamatan, kepedulian terhadap lingkungan dan warisan budaya ini diharapkan dapat menjadi dorongan bagi penguatan koordinasi antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, instansi teknis, dan masyarakat.
Kita tidak perlu menunggu sampai kerusakan semakin luas untuk mulai menumbuhkan kepedulian. Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama dan berkesinambungan dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan.
Pantai Mananga Aba bukan hanya ruang alam yang kita nikmati hari ini. Kawasan ini juga menyimpan nilai yang layak dikenal dan diwariskan kepada anak cucu kita.
Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal pohon Bhugga melalui cerita, sementara keberadaannya di kawasan pantai semakin berkurang. Jangan pula sampai nilai-nilai kearifan leluhur hanya tersisa dalam ungkapan, tanpa diikuti kepedulian untuk menjaga alam tempat nilai-nilai itu tumbuh.
Merawat Bhugga berarti ikut menjaga warisan leluhur. Melindungi Pantai Mananga Aba berarti merawat lingkungan, menghargai identitas budaya, dan membuka harapan bagi masa depan masyarakat Loura.
Semoga semangat Katukku Lena – Katukku Mara terus menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan warisan budaya yang telah dipercayakan kepada generasi hari ini.
Warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirawat dan diteruskan.@
(Red/Yoseph Kalumbang).***