ISU GEMPA 8,5 GUNCANG GRUP WHATSAPP SEKOLAH DI SUMBA, BMKG TEGASKAN PREDIKSI TERSEBUT HOAKS. - Pesan Berantai Picu Keresahan Orang Tua Murid, BMKG: Belum Ada Teknologi yang Mampu Memastikan Waktu, Lokasi, dan Magnitudo Gempa.

Oleh: Redaksi
Jumat, 09 Okt 2026 | 06:03 WITA 5 menit baca 171 dibaca
ISU GEMPA 8,5 GUNCANG GRUP WHATSAPP SEKOLAH DI SUMBA, BMKG TEGASKAN PREDIKSI TERSEBUT HOAKS.

-

Pesan Berantai Picu Keresahan Orang Tua Murid, BMKG: Belum Ada Teknologi yang Mampu Memastikan Waktu, Lokasi, dan Magnitudo Gempa.
ISU GEMPA 8,5 GUNCANG GRUP WHATSAPP SEKOLAH DI SUMBA, BMKG TEGASKAN PREDIKSI TERSEBUT HOAKS. - Pesan Berantai Picu Keresahan Orang Tua Murid, BMKG: Belum Ada Teknologi yang Mampu Memastikan Waktu, Lokasi, dan Magnitudo Gempa. Sumber: Nusaaksaranews.com

SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR,09/10/26 , nusaaksaranews.com — Pesan berantai yang menyebutkan akan terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,5 di wilayah Mamboro, Pulau Sumba, beredar melalui sejumlah grup WhatsApp sekolah pada Jumat (9/10/2026). Informasi tersebut memicu keresahan, terutama di kalangan orang tua murid yang khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka.

Pesan singkat yang beredar itu berbunyi:

"Siang sbntr jangan di dlm kelas karena ada predeksi akan ada gempa 8,5 di mamboro sana,otomatis kita akan kena semua".

Pesan tersebut mengesankan seolah-olah gempa berkekuatan magnitudo 8,5 telah dapat diprediksi akan terjadi di wilayah tertentu. Namun, siapa pembuat pertama pesan itu, dari mana sumber informasinya, dan apa dasar klaim prediksi tersebut, hingga kini belum diketahui berdasarkan informasi yang diterima redaksi.

Untuk memastikan kebenarannya, media mengonfirmasi langsung Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sumba Timur, Rudi Darsono, S.Si., M.Sc., pada Jumat (9/10/2026).

Hasil konfirmasi tersebut menegaskan bahwa masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi prediksi gempa yang tidak memiliki sumber resmi dan dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

BMKG: Pesan Prediksi Gempa M 8,5 Terindikasi Hoaks

Dalam keterangannya melalui pesan singkat kepada media, Rudi menyatakan bahwa informasi yang beredar tersebut terindikasi hoaks.

"Pagi Pak, izin Pak, untuk pesan itu terindikasi hoaks, Pak," demikian pernyataan Rudi kepada media.

Rudi menjelaskan bahwa hingga saat ini, teknologi yang tersedia belum mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar magnitudo suatu gempa bumi akan terjadi.

Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pesan yang menyebutkan gempa M 8,5 di Mamboro pada waktu tertentu tidak dapat diperlakukan sebagai peringatan resmi hanya karena telah tersebar luas melalui grup percakapan.

Dalam imbauannya kepada masyarakat Sumba, Rudi juga menegaskan bahwa informasi mengenai prediksi gempa besar tersebut bukan berasal dari BMKG.

Ia meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tidak ikut menyebarluaskannya.

Informasi resmi mengenai aktivitas gempa bumi, menurut Rudi, harus merujuk pada kanal resmi BMKG atau lembaga berwenang.

Masyarakat diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan secara proporsional, serta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pesan berantai yang tidak jelas sumbernya.

Data InaTEWS BMKG.

Mencatat Gempa M 4,7 di Utara Waingapu

Di tengah beredarnya pesan mengenai prediksi gempa M 8,5, redaksi juga memperoleh data aktivitas gempa bumi dari InaTEWS BMKG untuk Jumat (9/10/2026).

Data tersebut mencatat gempa bumi dengan parameter sebagai berikut:

Waktu kejadian: 01.06.02 WIB.

Magnitudo: M 4,7.

Kedalaman: 59 kilometer.

Lokasi: Di laut, sekitar 39 kilometer di utara Waingapu.

Koordinat: 9,31° Lintang Selatan dan 120,21° Bujur Timur.

Potensi tsunami: Tidak berpotensi tsunami, sesuai keterangan dalam data yang diperoleh redaksi.

Data gempa M 4,7 tersebut merupakan catatan kejadian gempa bumi, sedangkan pesan mengenai gempa M 8,5 merupakan klaim prediksi yang berbeda dan telah diklarifikasi oleh Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sumba Timur sebagai informasi yang terindikasi hoaks.

Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa catatan gempa M 4,7 tersebut membenarkan klaim akan terjadinya gempa M 8,5. Kedua informasi harus dibedakan agar masyarakat tidak mencampuradukkan kejadian gempa yang tercatat dengan prediksi yang tidak terverifikasi.

Redaksi menegaskan bahwa pencantuman data M 4,7 merujuk pada informasi InaTEWS BMKG yang diambil redaksi, pada pesan berantai yang beredar di grup WhatsApp .

Pesan Menyebar Antarsekolah, Orang Tua Murid Dibayangi Kekhawatiran.

Penyebaran pesan tersebut dari satu lingkungan sekolah ke lingkungan sekolah lainnya memperlihatkan bagaimana informasi yang belum terverifikasi dapat dengan cepat menjangkau masyarakat luas.

Bagi orang tua murid, pesan mengenai gempa berkekuatan besar tentu dapat menimbulkan kekhawatiran, terlebih ketika isinya menyarankan agar siswa tidak berada di dalam kelas pada waktu tertentu.

Namun, informasi yang menyangkut keselamatan peserta didik harus disampaikan berdasarkan sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa verifikasi, pesan semacam itu berisiko menimbulkan kepanikan serta memengaruhi keputusan orang tua dan pihak sekolah.

Sekolah perlu memastikan bahwa informasi kebencanaan yang disampaikan kepada peserta didik dan orang tua bersumber dari lembaga berwenang. Apabila terdapat kabar yang meresahkan, klarifikasi resmi perlu diberikan agar tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas.

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu memahami bahwa gempa bumi merupakan ancaman alam yang harus diantisipasi melalui kesiapsiagaan, bukan dengan mempercayai ramalan yang tidak memiliki dasar terverifikasi.

Siapa Pembuat Pertama Pesan.

Prediksi Gempa M 8,5?

Di balik cepatnya penyebaran pesan tersebut, terdapat pertanyaan yang belum terjawab: siapa yang pertama kali membuat atau menyebarkan klaim prediksi gempa M 8,5 di Mamboro?.

Hingga berita ini disusun, redaksi belum memperoleh bukti yang cukup untuk memastikan identitas pembuat pertama pesan, sumber klaim prediksi, maupun motif di balik penyebarannya.

Belum dapat dipastikan pula apakah orang-orang yang meneruskan pesan tersebut mengetahui bahwa informasinya keliru atau sekadar menyebarkannya karena khawatir terhadap keselamatan keluarga dan peserta didik.

Karena itu, penyebar pesan tidak dapat serta-merta dianggap sengaja membuat berita bohong tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Meski demikian, penelusuran sumber awal informasi tetap penting untuk mengetahui bagaimana klaim tersebut muncul dan menyebar luas di lingkungan sekolah.

Apabila kemudian ditemukan bukti adanya dugaan pelanggaran hukum, penanganannya harus dilakukan oleh pihak berwenang berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku, bukan berdasarkan dugaan semata.

Masyarakat Diminta Waspada, Bukan Panik.

Klarifikasi Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sumba Timur menjadi pengingat bahwa informasi mengenai ancaman bencana harus diperiksa sebelum dipercaya dan disebarluaskan.

Masyarakat diimbau untuk:

1.Memeriksa informasi gempa melalui kanal resmi BMKG.

2.Tidak langsung meneruskan pesan berantai yang tidak memiliki sumber jelas.

3.Tidak menyimpulkan akan terjadi gempa besar hanya berdasarkan ramalan atau klaim di media sosial.

4.Mengikuti arahan resmi pemerintah daerah, sekolah, dan petugas berwenang apabila terdapat situasi darurat.

5.Tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap gempa bumi tanpa terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Pesannya jelas: masyarakat Sumba perlu tetap waspada terhadap potensi gempa bumi, tetapi tidak perlu panik akibat prediksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kecepatan menyebarkan pesan tidak boleh mengalahkan kewajiban memeriksa kebenarannya.

Satu pesan yang belum terverifikasi dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Karena itu, setiap pengguna media sosial dan aplikasi percakapan memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang dibagikan tidak menyesatkan atau menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.@

(Red/Yoseph Kalumbang).***

R

Penulis Laporan

Redaksi

Jurnalis NusaAksaraNews yang berfokus pada liputan mendalam nasional.

Lihat Profil

Komentar

0 Tanggapan

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan pada artikel ini.

Komentar
Share WhatsApp